Evaluasi
lahan merupakan salah satu komponen penting dalam proses penggunaan lahan.
Hasil evaluasi lahan memberikan alternatif penggunaan lahan dan batas-batas
penggunaannya serta tindakan-tindakan pengelolaan yang diperlukan agar lahan
dapat dipergunakan secara lestari sesuai dengan hambatan atau ancaman yang ada
(FAO, 1976). Identifikasi dan karekterisasi suatu lahan mutlak dilakukan
sebelum mengevaluasi suatu lahan. Dengan identifikasi dan karekterisasi suatu
lahan maka akan didapat suatu nilai yang akan dijadikan acuan dalam evaluasi
lahan.
Tampilkan postingan dengan label Materi Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kuliah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Maret 2018
Senin, 19 Februari 2018
Mahkota Dewa
Tanaman Mahkota dewa
(Phaleria macrocarpa) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia, habitat
asalnya di tanah Papua dan kemudian masuk ke Keraton Mangkunegara Solo dan
Keraton Yogyakarta yang digunakan untuk keperluan pengobatan. Bagian tanaman
yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan
adalah daun, kulit, daging, cangkang dan biji (Harmanto, 2001). Teknologi
budidaya mahkota dewa secara intensif hingga saat ini belum ada. Hal ini di
sebabkan keberadaanya belum dikenal sacara luas oleh masyarakat. Secara umum
mahkota dewa dapat dibudidayakan dengan mudah dan dapat tumbuh baik di daerah
dataran rendah hingga dataran tinggi. Perbanyakan mahkota dewa dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu secara generatif dan vegetatif. Secara generatif
menggunakan biji sedangkan secara vegetatif contohnya dengan pencangkokan.
Perbanyakan dengan biji merupakan cara yang paling banyak dilakukan karena
memang paling mudah. Agar tanaman
mahkota dewa dapat tumbuh dengan baik maka harus diperhatikan kelembapan medianya, penyiramannya, dan
pemberian pupuk kandang atau kompos.
Mahkota dewa merupakan
tanaman jenis pohon yang berkembang dan tumbuh sepanjang tahun, pohonnya mampu
mencapai ketinggian 3-4m.Batang bergetah terdiri dari kulit yang berwarna
coklat kehijauan dan batang kayu berwarna putih, dan berakar tunjang. Daun mahkota dewa berbentuk lonjong , lansing,
memanjang & hujungnya runcing, tepi daun rata, permukaan daun licin dan
tidak berbulu. Bunga mahkota dewa berwarna putih dan berbau harum. Bunga
tersebut berukuran kecil menyerupai bunga cengkih. Buah mahkota dewa terdiri
dari kulit, daging, cangkang & biji. Buah berbentuk bulat, diameter 3-5cm,
permukaan licin, beralur, ketika muda warnanya hijau dan merah setelah masak.
Daging buah berwarna putih, berserat dan berair. Cangkang buah merupakan kulit
dari biji yang juga termasuk bahagian yang sering di manfaatkan sebagai obat.
Biji merupakan bagian tanaman paling beracun. Bentuknya bulat lonjong
berdiameter sekitar 1cm & berwarna coklat, bahagian dalam berwarna putih.
Cara Membudidayakan dan
Syarat tumbuh Tanaman Mahkota Dewa
Pohon Mahkota Dewa
dibudidayakan sebagai tanaman hias / tanaman peneduh. Pohonnya kecil dengan
tinggi mencapai 1,5 - 3 meter, merupakan tanaman perdu, mempunyai buah yang
menarik karena warnanya merah menyala, menempel dari batang utama hingga ke
ranting-rantingnya.Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah.
Bahkan, ada yang memanfaatkan peluang usaha untuk membudidayakan dan
mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai
bentuk.
Masa produksi 10 - 20
tahun. Buah mahkota dewa berbentuk bulat, dengan ukuran bervariasi mulai
sebesar bola pingpong sampai buah apel. Bagian tanaman yang biasa digunakan
sebagai bahan obat adalah daun dan buahnya. Tanaman mahkota dewa biasa tumbuh
di ketinggian 10 - 1.200 m dpl (di atas permukaan laut) dengan lokasi optimal
10 - 1.000 m dpl.
Budidaya mahkota dewa
dapat menggunakan bahan tanam generatif atau vegetatif. Cara generatif, artinya
budidaya mahkota dewa memanfaatkan bibit berupa biji buah mahkota dewa itu
sendiri. Sedangkan dengan cara vegetatif, artinya dengan cara mencangkok bagian
pohon mahkota dewa. Secara umum, yang paling banyak digunakan adalah cara yang
pertama yakni melalui bibit biji. Namun mengingat cangkokan lebih cepat
berbuah, tak jarang juga yang memilih cara vegetatif. Medium tanam mahkota dewa
bisa di pot maupun ditanam secara langsung di tanah. Namun, pilihan terbaik
mungkin ditanam langsung mengingat akarnya yang tunggang.
Memilih Bibit
Jika memilih cara
vegetatif, maka langkahnya cukup sederhana. Pilihlah pohon yang hendak
dicangkok. Dalam memilih pohon, perhatikan tempilan pohon, intensitasnya dalam
berbuah dan hal lainnya. Sama halnya jika Anda memilih cara generatif, bibit
penting untuk diseleksi. Sebab bibit yang baik pasti akan memberikan hasil yang
juga baik. Mengingat tamanan mahkota dewa tidak memiliki siklus musim dalam
berbuah, maka bibit terbaik adalah tanaman yang berbuah lebih produktif dan
memiliki kualitas buah yang lebih baik.
Pengolahan Tanah,
Penanaman, Pemupukan
Setelah bibit tersedia,
hal lain yang penting diperhatikan adalah pengolahan medium tanam. Sebelum
menanam bibit, perhatikan kesuburan tanah. Ada baiknya digemburkan terlebih
dahulu dengan cara diberi pupuk dasar.
Takaran pupuk kandang yang diberikan adalah 20ton/ha. Selain
tanah, lubang tanam juga penting untuk diperhatikan. Sebagai tanaman keras, mahkota dewa membutuhkan
membutuhkan lubang tanam. Lubang tanam digali (30x 30x30 ) cm. Tanah galian
ditumpuk terpisah antara tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah. Penting untuk membiarkan
lubang tanam terbuka selama seminggu agar terkena udara luar dan terpapar sinar
matahari. Media penanaman bisa juga menggunakan pot berukuran diameter 30 cm
dan tinggi 40 cm, bisa terbuat dari tanah, plastik, kayu atau kaleng. Media
tanam dalam pot sebaiknya campuran tanah, kompos, pasir/sekam dengan
perbandingan 1 : 1 : 1.
Setelah bibit dan medium
tanam telah siap, selanjutnya adalah langkah penanaman. Sebenarnya, hal yang
paling menguntungkan dari budidaya mahkota dewa adalah tidak adanya siklus
musim baik itu tanam maupun berbuah. Jadi tidak ada waktu khusus jika ingin
menanam mahkota dewa. Setelah proses penanaman, yang perlu Anda perhatikan
selanjutnya adalah pemeliharaan berupa pemupukan, penyiraman, dan penyiangan
dari gulma dan juga pembasmian hama.
Penyiraman,Pemupukan,
Penyiangan
Dalam budidaya mahkota
dewa, penting untuk memperhatikan perawatan seperti pemupukan. Pada dasarnya,
pupuk yang dianjurkan adalah pupuk organik berbahan alami. Anorganik tidak
dianjurkan sebab residu kimianya akan mempengaruhi buah padahal buah mahkota
dewa merupakan bahan obat herbal. Tentu kandungan kimia akan mempengaruhi
kualitas pengobatan. Hal lain yang penting adalah proses penyiraman. Selama
hidupnya, tanaman mahkota dewa digolongkan sebagai tanaman yang konsumsi airnya
cukup tinggi. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan masalah hama juga
gulma. Lakukan proses penyiangan secara frekuentif untuk melawan gulma
sepanjang tahun. Sedangkan untuk hama, umumnya yang sering menyerang mahkota
dewa adalah belalang, ulat buah, dan juga kutu putih. Pakailah pestisida
organik untuk mengusir hama tersebut.
Tanaman ini membutuhkan
banyak air selama hidupnya. Oleh karena itu perlu adanya aliran irigasi yang
baik pada lahan pertanaman. Tanaman berbunga pertama kali yang menjadi buah
pada umur 10-12 bulan.
Panen
Langkah terakhir dalam
proses budidaya mahkota dewa adalah masa panen. Buah akan matang dan siap
dipanen dalam waktu 2 bulan. Buah mahkota dewa yang siap panen berwarna merah
terang dan memiliki bau manis layaknya gula pasir. Setelah dipetik, untuk
meningkatkan nilai jual, Anda bisa melakukan beberapa proses seperti
penyortiran, pencucian, pemotongan daging buah, pengeringan dan lain-lain. Namun,
dalam kondisi tertentu, Anda juga bisa menjual buah mahkota dewa dalam keadaan
segar.
Tempat tumbuh
Mahkota dewa dijumpai
tumbuh liar di daerah hutan dengan ketinggian 10 - 1200 mdpl dengan curah hujan
100 - 2500 mm/tahun. Tanaman yang berasal dari Papua ini akan tumbuh optimal
jika ditanaman pada ketinggian 10 - 1000 mdpl.
PERAKITAN VARIETAS TANAMAN JAGUNG TAHAN BULAI DAN TAHAN KEKERINGAN
PERAKITAN
VARIETAS TANAMAN JAGUNG TAHAN BULAI DAN TAHAN KEKERINGAN
PENDAHULUAN
Jagung
manis (Zea mays var. saccharata)
merupakan jenis jagung yang termasuk tanaman hortikultura, sangat populer di
negara-negara maju seperti Amerika, Brasil, Prancis, dan negara-negara
berkembang. Jagung ini dikonsumsi dalam bentuk jagung muda yang direbus, untuk
sayuran dan lauk pauk, serta sebagai bahan baku pembuatan permen karena
mempunyai rasa manis dan enak. Sementara itu limbah jagung segar setelah panen
sangat bermanfaat bagi petani sebagai tambahan hijauan pakan ternak.
Jagung
manis adalah hasil mutasi resesif yang terjadi secara alami dalam gen yang
mengontrol konversi gula menjadi pati dalam endosperm biji jagung. Saat ini
telah ditemukan 13 gen mutan yang dapat memperbaiki tingkatan gula pada jagung
manis. Akan tetapi gen yang utama memengaruhi kemanisan jagung ada tiga, yaitu
(1) gen sugary gen (su), (2) gen sugary enhancer (se), dan (3) gen shrunken
(sh2). Ketiga gen tersebut merupakan gen resesif sehingga harus ditanam
terpisah dari varietas jagung field corn.Jagung manis yang dikontrol oleh gen
su biasa disebut jagung manis normal karena kandungan gulanya 9-16% dan setelah
dipanen muda terjadi konversi gula menjadi pati sesudah 24 jam. Jagung manis
yang dikontrol oleh gen se mempunyai kandungan gula 14-22%, sedangkan jagung
manis yang dikontrol oleh gen sh2 mengandung gula sekitar 28-44%. Jagung manis
yang dikontrol oleh gen sh2, dapat disimpan sekitar 2-3 hari setelah panen muda
(Tracy, 1994 cit. Lertrat and Pulam, 2007).
Gen
su2 dan sh2 sudah umum digunakan dalam pembuatan hibrida varietas jagung manis.
Gen sh2 menyebabkan rasa manis yang dapat bertahan lebih lama karena setelah
panen kandungan gulanya tidak langsung dikonversi menjadi pati sehingga disebut
supersweet. Apabila kedua gen berada
dalam satu genotipe maka disebut sugary supersweet. Menurut Alexander dan
Creech (1977), kandungan gula pada biji yang masak berbeda pada setiap kultivar
jagung manis, bergantung pada derajat kerutannya. Benih jagung manis dapat
dikenali dari bentuk bijinya yang berkerut, tetapi dari kerutan biji tidak bisa
diketahui gen-gen mana yang mengontrol rasa manis pada biji jagung.
Salah
satu penyakit yang banyak menurunkan hasil tanaman jagung adalah penyakit bulai
atau downy mildew. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis
yang menyerang daun jagung, dan dapatmenimbulkan kehilangan hasil sampai 100%
(Shurtleff 1980 cit. Subandi et al. 1996). Epidemi penyakit bulai yang
disebabkan oleh P.maydisdi daerah Lampung pertama kali terjadi tahun 1973,
mengakibatkanpenurunan hasil jagung cukup drastis pada tahun-tahun berikutnya.
Dari tahun 1973 sampai 1979 terjadi penurunan produksi berturut-turut sebesar
115, 92, 19, 44, 62, 55, dan 70 ribu ton (Sudjadi 1992).
Upaya
pengendalian penyakit pada dasarnya adalah melalui pengendalian perkembangan
patogen, memanfaatkan inang dan lingkungan untuk memperkecil akibat
yangditimbulkan patogen sehingga mencapai suatu titik di bawah ambang ekonomi
dengan kerugian yang dapat diabaikan(Sudjadi, 1992). Beberapa cara pengendalian
penyakit bulai adalah penanaman kultivar tahan, pengaturan waktu tanam,
sanitasi, dan perlakuan benih dengan metalaksil.
Kultivar
unggul dapat diperoleh melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Salah satu langkah
dalam kegiatan pemuliaan tanaman adalah perluasan keragaman genetik melalui
hibridisasi atau persilangan. Persilangan merupakan salah satu upaya untuk
menambah variabilitas genetik dan memperoleh genotype baru yang lebih unggul.
Salah satu tipe persilangan yang sering dilakukan adalah persilangan dialel
(diallel cross). Persilangan dialel adalah persilangan yang dilakukan diantara
semua pasangan tetua sehingga dapat diketahui potensi hasil suatu kombinasi
hibrida, nilai heterosis, daya gabung (daya gabung umum dan daya gabung
khusus), dan dugaan besarnya ragam genetik dari suatu karakter.
Suatu
galur sebelum dijadikan tetua dalam persilangan untuk menghasilkan varietas,
perlu diketahui daya gabungnya. Salah satu cara untuk mengetahui daya gabung
galur adalah melalui persilangan dialel. Daya gabung merupakan suatu ukuran
kemampuan genotipe tanaman dalam persilangan untuk menghasilkan tanaman unggul.
Menurut Rifin (1983) yang melakukan evaluasi daya gabung umum terhadap empat
galur tahan melalui persilangan puncak dengan menggunakan tiga galur rentan
sebagai tester, menyimpulkan bahwa galur yang memiliki efek daya gabung umum
negatif dan nilai heterosis tinggi diharapkan tahan terhadap penyakit bulai.
Menurut Iriany et al. (2003) yang melakukan evaluasi daya gabung umum terhadap
empat galur tahan dan empat galur rentan melalui persilangan dialel,
menyimpulkan bahwa galur yang bernilai daya gabung umum tinggi (negatif)
memiliki kemampuan untuk menghasilkan genotipe tahan bulai. Dengan demikian
keturunan silang tunggal yang mempunyai daya gabung umum negatif dan nilai
heterosis tinggi diharapkan tahan terhadap penyakit bulai.
Hasil
evalusi daya gabung dilanjutkan dengan uji daya hasil pendahuluan dan uji
multilokasi. Pada akhirnya calon varietas yang unggul berdasarkan uji
pendahuluan dan uji multilokasi dapat dilepas menjadi varietas baru
Perubahan
iklim global adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan
distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor
kehidupan manusia khususnya sektor pertanian. Laporan Intergovenrmental Panel
on Climate Change IPCC menyatakan bahwa selama 157 tahun terakhir menunjukkan
bahwa suhu permukaan bumi mengalami peningkatan sebesar 0,05oC/dekade.
Selama 25 tahun terakhir peningkatan suhu semakin tajam, yaitu sebesar 0,18oC/dekade
(Las et al. 2009). Peningkatan suhu secara global dikarenakan meningkatnya suhu
rata-rata permukaan bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi gas rumah
kaca di atmosfer yang menyerap sinar panas yaitu sinar infra merah yang
dipancarkan oleh bumi.
Tiga
faktor utama yang terkait dengan perubahan iklim global, yang berdampak
terhadap sektor pertanian adalah: 1) perubahan pola hujan, 2) meningkatnya
kejadian iklim ekstrim seperti banjir (La Nina) dan kekeringan (El Nino), dan
3) peningkatansuhu udara dan permukaan air laut (Salinger, 2005). Salah satu
sektor yang paling terpengaruh dengan perubahan iklim adalah sektor pertanian,
terutama subsector tanaman pangan. Hal ini karena tanaman pangan umumnya
merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap cekaman, terutama
kelebihan dan kekurangan air. Secara teknis, kerentanan sangat berhubungan
dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi
pengelolaan tanah, air, dan tanaman, serta varietas tanaman (Las et al. 2009).
Dampak
perubahan iklim terhadap produktivitas (hasil panen) tanaman ternyata sangat
bervariasi antar daerah. Hal ini terjadi karena produktivitas tidak saja
dipengaruhi oleh perubahan iklim tersebut, tetapi juga oleh faktor lain seperti
ketersediaan pupuk dan pestisida tepat waktu, atau sarana irigasi yang
mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal (Handoko et
al. 2008).
Kekeringan
pada tanaman jagung menyebabkan penutupan stomata, penggulungan, senenscence
daun, dan degradasi klorofil. Penggulungan daun disebabkan oleh rendahnya
turgiditas sel daun dengan potensial air daun tanaman mencapai -1.5 MPa.
Kekeringan juga dapat menyebabkan pertumbuhan luas daun, tinggi dan batang
menjadi menurun serta organ reproduktif yang terbentuk lebih kecil dari ukuran
normal. Kekeringan yang terjadi pada masa generatif akan mempercepat waktu
panen dan kualitas biji menjadi rendah (Bänzinger et al. 2000).
Seleksi
kekeringan jagung berdasarkan prosedur CIMMYT dengan perlakuan cekaman
kekeringan saat fase pembungaan atau fase pengisian biji, hasilnya menurun
sekitar 30 - 60% dari hasil pada kondisi optimum. Jika tanaman mengalami
kekeringan pada fase pembungaan sampai masak fisiologis, hasilnya 15 - 30% dari
hasil pada kondisi optimum, sedangkan kekeringan pada masa vegetatif tidak
berakibat langsung terhadap hasil (Bänzinger et al. 2000).
Sebagian
besar wilayah Asia Tenggara mengalami perubahan pola hujan yang tidak teratur
karena efek pemanasan bumi (Zaidi et al. 2004). Di Indonesia budidayasebagian
besar dilakukan setelah tanam padi pada akhir musim hujan (April-Juni) sehingga
masih mendapatkan curah hujan yang cukup untuk pertumbuhan awal, namun
pergeseran iklim yang menyebabkan curah hujan tinggi meningkatkan resiko
tergenangnya pertanaman jagung pada fase vegetatif, sehingga dapat
mengakibatkan penurunan produksi.
METODE
Metode perakitan untuk menyilangkan tanaman jagung varietas toleran
kekeringan dan genangan dengan jagung varietas berdaya hasil tinggi dan tahan
penyakit bulai digunakan metode ear to row.
Pelaksanaan seleksi massa secara
visual yaitu dengan memilih fenotipe yang baik dalam memberikan hasil memuaskan
tanpa berpedoman pada nilai parameter genetik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa parameter yang mempunyai heritabilitas tinggi dan
variasi genetik tinggi pada umumnya akan mempunyai kegunaan tinggi untuk
masing-masing karakter tertentu. Pada seleksi massa variabilitas genetik dan
heritabilitas merupakan parameter genetik dalam program seleksi yang sangat
menetunkan keberhasilan program pemuliaan. Dalam program seleksi untuk
memperbesar peluang mendapatkan genotipe unggul perlu diuji galur
sebanyak mungkin.
Seleksi ear
to row merupakan modifikasi dari
seleksi massa. Pada seleksi massa tanaman yang terpilih (tongkol) langsung
dicampur dan digunakan untuk pertanaman seleksi musim berikutnya. Padahal
tongkol terpilih tersebut merupakan hasil persilangan secara acak sehingga
sulit diduga susunan genotipenya. Untuk memperbaiki kelemahan ini tongkol –
tongkol tersebut diuji terlebih dahulu sebelum diuji. Cara pengujian tersebut
disebut pengujian keturunan (progeny test). Pada perakitan ini digunakan
seleksi ear to row dengan seleksi saudara kandung. Material yang digunakan pada seleksi
saudara kandung dilakukan dengan persilangan secara sepasang–sepasang
sehingga diperoleh meterial seleksi berupa tongkol – tongkol satu ayah dan
satu ibu.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander DE, Creech C. 1977. Breeding special nutritional and
industrial types. Corn and Corn Improvement. The American Society of Agronomy
Inc.
Bänzinger M., Edmeades G.O., Beck D., Bellon
M. (2000) Breeding for Drought and Nitrogen Stress Tolerance in Maize: From
Theory to Practice, CIMMYT., Mexico, D.F. pp. 68.
Handoko I., Sugiarto Y., Syaukat Y. (2008)
Keterkaitan Perubahan Iklim dan Produksi Pangan Strategis :Telaah kebijakan independen
dalam bidang perdagangan dan pembangunan. , SEAMEO BIOTROP for Kemitraan
partnership.
Iriany RN, Makkulawu AT, Isnaini M, Dahlan
MM, Subandi. 2003. Evaluasi daya gabung karakter ketahanan tanaman jagung
terhadap penyakit bulai melalui persilangan dialel. Jurnal Penelitian
Pertanian. 22: 14-25.
Las I., Surmaini E., Ruskandar A. (2009)
Antisipasi Perubahan Iklim: Inovasi Teknologi dan Arah Penelitian
Padi di Indonesia., Prosiding Seminar Nasional Padi 2008., BalaiBesar
Penelitian Tanaman Padi, Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian. pp.55-72.
Lertrat K, Pulam T. 2007. Breeding for
increased sweetness in sweet corn. Int J Plant
Breed. 1(1): 27-30.
Rifin A, Setiyono R, Nuraefendi A, Hadian
D. 1984. Heterosis and combining ability in corn. Penelitian Pertanian. 4(3):
81-83.
Salinger M.J. (2005) Climate variability
and change: past, present, and future over view. Cl i mate Change 70:9−29.
Shurtleff MC. 1980. Compendium of Corn Disease. The
American Phytophathological Society.
Subandi MS, Sudjadi, Pasaribu D. 1996.
Laporan hasil pemantauan penyakit bulai dan benih palsu pada pertanaman
jagung hibrida di Lampung. Bogor (ID): Pusat Penelitian Tanaman Pangan.
Sudjadi MS. 1992. Pengaruh masa tanam,
faktor cuaca dan penyakit utama terhadap hasil jagung di lahan tadah hujan
Lampung Tengah. Penelitian Pertanian. 12: 104-110.
Tracy W.F. 1994. Sweet Corn Dalam: Specialty Corn. Ames (US): Department of
Agronomy, Iowa State University
Zaidi P.H., Yadav M., Singh D.K., Singh
R.P. (2008) Relationship between drought and excess moisture tolerance in
tropical maize (Zea mays L.). Australian Journal of Crop Science 1(3):78-96.
Manajemen Unsur Hara
Pemeliharaan dan
manajemen kesuburan tanah adalah pokok dari pengembangan pertanian dan produksi
pangan yang berkelanjutan. Manajemen kesuburan tanah meliputi cara menentukan
nutrisi yang tepat diberikan pada tanah, tanaman yang cocok dibudidayakan, dan rotasi
pergantian komoditas tanaman yang ditanam. Pengelolaan kesuburan tanah bertujuan
untuk emngoptimumpkan kesuburan tanah.
Tanaman kelapa sawit
banyak menempati tanah-tanah yang memiliki tingkat kesuburan fisik dan kimia
yang rendah. Pemupukan dapat mendukung produktivitas tanaman sawit, mengingat
kelapa sawit tergolong tanaman yang
konsumtif terhadap unsur hara. Pemupukan pada kelapa sawit pada lahan petani,
harus mempertimbangkan banyak faktor, diantaranya : jumlah hara yang diserap
tanaman, hara yang dikembalikan, hara yang hilang dari zona perakaran, dan hara
yang terangkut panen, serta emampuan
tanah menyediakan hara. Kemampuan tanah dalam meyediakan hara mempunyai
perbedaan yang sangat menyolok dan tergantung pada jumlah hara yang tersedia,
adanya proses fiksasi dan mobilisasi, serta kemudahan hara tersedia untuk
mencapai zona perakaran tanaman.
Oleh karena itu
diperlukan metode empiris untuk menentukan status hara di dalam tanah dan
tanaman untuk memberikan pedoman yang
efektif bagi praktik pemupukan. Diagnosis kebutuhan pupuk untuk tanaman kelapa
sawit dilakukan untuk mengetahui jumlah pupuk yang harus diaplikasikan. Hal
tersebut penting untuk diperhatian agar diperoleh hasil (produk) yang optimal.
Metode diagnosis kebutuhan hara untuk tanaman kelapa sawit dapat dilakukan
berdasarkan hasil percobaan pemupukan. Kebanyakan petani sawit belum banyak
mengetahui cara pemupukan yang benar untuk meningkatkan hasil tanaman kelapa
sawitnya, terutama dalam meningkatkan tandan buah segar.
Tanaman kelapa sawit
memerlukan pupuk dalam jumlah yang tinggi, mengingat bahwa 1 ton TBS yang
dihasilkan setara dengan 6,3 kg Urea, 2,1 kg TSP, 7,3 kg MOP, dan 4,9 kg Kiserit.
Pemupukan pada tanaman kelapa sawit membutuhkan biaya yang sangat besar sekitar
30% terhadap biaya produksi atau sekitar 60% terhadap biaya pemeliharaan.
Pemanfaatan pupuk organik, dapat memperbaiki lahan petani dalam meningkatkan
tandan buah kelapa sawit, apalagi bila di barengi dengan pupuk anorganik.
Menurut Pahan (2007), bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah dan
memberikan hara bagi tanaman. Pemberian bahan organik sebagai pupuk memberikan
pengaruh yang sangat kompleks bagi pertumbuhan tanaman, karena kemampuannya
memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, Aplikasi kompos tandan kosong kelapa
sawit pada percobaan di pot dapat meningkatkan KTK media tanah dari 20,6 mejadi
39,7 me/100 g tanah (Darmosarkoro, et.al. 2001).
Dalam menentukan
pemupukan anorganik pada kelapa sawit harus mengacu pada konsep efektivitas dan
efisiensi yang maksimum. Menurut Pahan (2007) sifat pupuk yang penting adalah
kandungan unsur hara utama pupuk, kandungan unsur hara tambahan, rekasi kimia
pupuk di dalam tanah, serta kepekaan pupuk terhadap pengaruh iklim. Respon
tanaman terhadap pemberian pupuk tergantung pada keadaan tanaman dan ketersediaan
hara di dalam tanah, Semakin besar respon tanaman, semakin banyak unsure hara
dalam tanah (pupuk) yang dapat diserap oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi.
Menurut Sugiyono, et al. (2005), perimbangan hara kation K, Ca dan
Mg di dalam tanah, terutama K vs Mg, menjadi faktor pembatas bagi
tercapainya produktivitas kelapa sawit. Antagonisme K vs Mg mengakibatkan
defisiensi hara K dan atau Mg di lapangan. Defisiensi K dan
Mg disebabkan kadar hara di tanah rendah. Lahan di perkebunan kelapa
sawit didominasi oleh tanah-tanah marginal. Tanah tersebut memiliki
karakteristik fisika dan kimia sehingga tingkat kesuburan tanahnya rendah dan
kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman (Koedadiri dan Winarno, 1999).
Irama penyerapan hara
oleh setiap tanaman berbedabeda. Tanaman
teh dipetik teratur setiap seminggu sekali sehingga
penyerapan harapun akan mengikuti irama pemetikan.
Oleh karena itu hal penting dalam pemupukan adanya
curah hujan di antara dua waktu pemupukan, serta waktu
penyerapan oleh tanaman. Waktu pemupukan terbaik,
yaitu pada kondisi dimana jumlah curah hujan antara
60 – 200 mm/minggu. Kurang dari 60 mm/minggu menyebabkan
unsur hara dari pupuk belum dapat diserap dengan
sempurna karena belum terurai secara keseluruhan. Sedangkan
lebih dari 200 mm/minggu sebagian akan larut terbawa
aliran air.
Pusat Penelitian Teh dan
Kina telah merekomendasikan
pemupukan teh berdasarkan TBM dan TM.
Untuk mengoptimalkan serapan hara oleh tanaman diperlukan
dosis yang tepat. Dalam
rangka pemupukan perlu mempertimbangkan dosis
yang tepat agar kehilangan pupuk dapat diperkecil sehingga
dapat menunjang produktivitas yang ingin dicapai.
Namun demikian untuk mempermudah pemberian pupuk
di lapangan pedoman umum untuk dosis pemupukan
sudah harus ditetapkan baik untuk tanaman TBM
maupun tanaman TM (Tabel 4 dan 5).
Prinsip pemberian pupuk
ke dalam tanah bertujuan terjaganya
imbangan pupuk yang ada agar setiap waktu dibutuhkan
tanaman sudah tersedia. Pemberian pupuk tunggal
dapat menyebabkan tidak tersedia serempak akibat pemberian, sehingga pupuk diberikan dalam
bentuk
tercampur. Pupuk campuran ada 3 macam: (1)
pupuk dimana NPK berbentuk butiran yang disebut
pupuk NPK mejemuk, (2) pupuk
campuran dari bahan pupuk tunggal sesuai
dengan rekomendasi pupuk dengan imbangan N-PK-Mg-S-mikro, dan (3) pupuk
campuran dari pupuk tunggal yang
dirakit oleh pekebun sendiri. Jenis pupuk tunggal yang biasa dipakai petani (PPTK, 2006).
Urea
N = 46%
ZA
N = 21%
SP36
P2O5 = 36%
Fosfat
alam P2O5 = 30%
MOP/KCl
K2O = 60%
ZK
K2O = 50%
Seng
Sulfat Zn = 22%
Kieserit
MgO = 27%
Darmosarkoro, W.,E.S. Sutarta, S. Rahutomo. 2001.
Peluang Penggunaan Pupuk Majemuk dan Pupuk Organik dari Limbah Kelapa Sawit.
PPKS. Medan.
Koedadiri, A.D dan Winarna. 1999. Kesesuaian Lahan dan
Produktivitas Tanah typic paleudult, sammentic
Paleudult dan Tropohumods untuk Kelapa Sawit. Warta PPKS vol. 7 No.2 Medan. Hal
61-67.
Pahan., I. 2007. Panduan Lengkap Kelapa sawit.
Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
PPTK. 2006. Petunjuk kultur teknis tanaman teh. Edisi ketiga. PPTK, Gambung.
Sugiyono, Edy S. Sutarta, W. Darmosarkoro dan Heri
Santoso. 2005. Peranan Perimbangan K, Ca dan Mg Tanah dalam Rekomendasi
Pemupukkan Kelapa Sawit. Pertemuan Teknis Kelapa Sawit PPKS 19-20 April 2005.
Medan.
Pola Tanam Berganda
Pola tanam berganda merupakan sistem pengelolaan lahan pertanian dengan mengkombinasikan intensifikasi dan diversifikasi tanaman (Francis,1989). Pola pertanaman ganda yang biasa dilakukan petani adalah sistem tumpangsari (Intercropping) yaitu penanaman lebih dari satu jenis tanaman berumur genjah dalam barisan tanam yang teratur dan saat penanamannya bersamaan dilakukan pada sebidang lahan (Francis, 1986).
Penanaman dengan sistem tumpangsari di negara-negara berkembang termasuk Indonesia masih terus dikembangkan, karena melalui sistem tersebut akan terjaga keseimbangan biologis, penganekaragaman hasil tanaman, mengurangi resiko kegagalan panen, membantu meningkatkan keuntungan dan stabilitas pendapatan petani per satuan luas tiap satuan waktu. Disamping itu sistem ini lebih aman dari sistem tunggal (monokultur) dalam situasi pertanian marginal, kesuburan tanah rendah, persediaan air yang tidak menentu dan tingkat input yang rendah (Van Hoof, 1987). Tanaman ganda juga berperan untuk mencegah erosi karena kemampuan vegetasi untuk menutup tanah (Gomez dan Gomez, 1983), menghemat air tanah lebih besar dibanding dengan sistem pertanaman tunggal (Arifin, 1988), dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan waktu pada musim tanam berbeda (Kadekoh, 2003).
Moynihan et al., (1996) menyebutkan bahwa tumpangsari kacang-kacangan dengan tanaman biji-bijian merupakan strategi budidaya yang dianjurkan untuk meningkatkan perlindungan terhadap tanah, dengan cara mengurangi kompetisi terhadap gulma, menekan erosi pada tanah, menyediakan N terhadap tanaman yang akan ditanam selanjutnya, dengan begitu, penggunaan pupuk N anorganik dan herbisida dapat dikurangi.
Pilbeam et al., (1995) menemukan bahwa jika kacang-kacangan ditanam dan berinteraksi dengan tanaman lain seperti tanaman serelia umumnya, hara nitrogen dari tanaman yang diasosiasikan akan meningkat, salah satunya dengan transfer langsung N dari kacang-kacangan ke serelia, atau oleh penguraian secara sederhana mineral yang tersedia di dalam tanah. Oleh karena itu produktifitas berpotensi ditingkatkan oleh kacang-kacangan pada sistem tumpangsari.
Berbagai pola tumpangsari antara legum dan non-legum merupakan keistimewaan dari sistem pertanian di daerah-daerah tropis (Willey, 1979; CIAT, 1986). Mengadopsi sistem tumpangsari umumnya dianggap lebih baik dalam pemanfaatan sumberdaya lingkungan dibanding dengan pola tanam monokultur (Fukai dan Trenbath, 1993). Sebagai tambahan pola tumpangsari juga diindikasikan sebagai alternatif selain herbisida untuk mengurangi atau menekan pertumbuhan gulma (Liebman dan Davis, 2000). Pengurangan penggunaan herbisida adalah merupakan salah satu yang menjadi perhatian utama dalam pertanian modern (Ngouajio et al., 1999) dan dari beberapa alternatif lainnya yang diteliti, pola tumpangsari adalah salah satu termasuk di dalamnya (Carruthers et al., 1998).
Pada umumnya sistem tumpangsari lebih menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi, jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982). Di samping keuntungan di atas, sistem tumpangsari juga dapat memperkecil erosi, bahkan cara ini berhasil mempertahankan kesuburan tanah (Ginting dan Yusuf, 1982).
Keuntungan secara agronomis dari pelaksanaan sistem tumpangsari dapat dievaluasi dengan cara menghitung Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL). Nilai ini menggambarkan efisiensi lahan, yaitu jika nilainya > 1 berarti menguntungkan. (Beets, 1982). Sistem tumpangsari dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian jika jenis-jenis tanaman yang dikombinasikan dalam sistem ini membentuk interaksi saling menguntungkan (Vandermeer, 1989).
Kacang tanah merupakan komoditas yang diperdagangkan (cash crop), demikian pula tanaman jagung karena mempunyai keunggulan komparatif untuk keperluan substitusi impor dan untuk diperdagangkan antar daerah. Di samping itu, legum yang ditanam diantara tanaman utama dapat berperan sebagai tanaman penutup tanah (cover crops) untuk meningkatkan siklus unsur hara, menekan pertumbuhan dan perkembangan gulma, atau meningkatkan keragaman sistem pola tanam. (Sarrantonio, 1994; Oswald et al., 2002; Smeltekop et al., 2002; Mutch et al., 2003).
Minggu, 24 September 2017
Senin, 18 September 2017
Tinjauan Pustaka Cabai
II. TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Botani Cabai
Tanaman cabai
(Capsicum annuum L.) berasal dari daratan Amerika Selatan dan Amerika
Tengah. Tanaman cabai
tumbuh kira-kira sejak 2500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat yang pertama kali
memanfaatkan dan mengembangkan cabai adalah orang Inca di Amerika
Selatan, orang Maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko. Mereka
memanfaatkannya sebagai bumbu masakan. Pada tahun 1500-an, bangsa Portugis
mulai memperdagangkan cabai ke Makao dan Goa,
kemudian masuk ke India, Cina, dan Thailand. Hingga sekarang belum ada data
yang pasti mengenai kapan cabai dibawa masuk ke Indonesia.
Menurut dugaan kemungkinan cabai dibawa oleh
saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh. Sumber lain menyebutkan
bahwa cabai masuk ke Indonesia
dibawa oleh bangsa Portugis (Susmawati dan Muda, 2013). Sejak saat itu cabai
berkembang pesat di Indonesia. Masyarakat Indonesia khususnya Jawa sudah
terbiasa memanfaatkan buah cabai sebagai bumbu masakan dan daunnya sebagai obat
luar. Penyebarluasan lewat biji atau benih diduga dilakukan secara tidak
sengaja oleh burung-burung liar ( Setiadi, 2013).
Klasifikasi tanaman cabai keriting adalah sebagai berikut (USDA, 2013):
Class :
Magnoliopsida
Subclass :Asteridae
Ordo :
Solanales
Tanaman cabai memiliki banyak ragam bentuk dan tipe
pertumbuhan. Bentuk
dan ukuran buahnya bervariasi, mulai
dari bulat, lonjong, hingga panjang dengan ukuran kecil sampai besar. Cabai
yang sebagian besar hidup dan berkembang di Benua Amerika diperkirakan sebanyak
20 spesies. Masyarakat di Indonesia umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja,
yaitu cabai besar, cabai keriting, cabai rawit, dan paprika (Harpenas dan
Dermawan, 2010).
Menurut Djarwaningsih (1984), buah cabai
besar (Capsicum annuum L.) memiliki panjang berkisar 6-10 cm, diameter
0,7-1,3 cm. Cabai besar di Indonesia dibagi menjadi dua
kelompok yaitu cabai merah besar dan cabai merah keriting. Permukaan buah cabai
merah besar halus dan mengkilat serta mempunyai rasa pedas, sedangkan cabai
merah keriting bentuknya lebih ramping dengan cita rasa sangat pedas. Cabai
besar dapat tumbuh subur di dataran rendah sampai dataran tinggi. Cabai merah
memiliki ciri-ciri antara lain bentuk buah besar, panjang, dan meruncing; buah
muda berwarna hijau, sedangkan buah tua berwarna merah; banyak terdapat biji
dan rasanya agak pedas.
Cabai keriting termasuk tanaman semusim,
berbentuk perdu atau setengah perdu, mempunyai sistem perakaran agak menyebar,
batang utama tumbuh tegak dan pangkalnya berkayu. Daun tumbuh secara tunggal
dengan bentuk sangat bervariasi, yaitu lancip sampai bulat telur dan ujungnya
runcing. Bentuk bunga cabai besar umumnya tunggal yang keluar dari
ketiak-ketiak daun. Daun bunga berwarna putih atau unggu dan mempunyai lima
benang sari serta satu buah putik. Penyerbukan dapat berlangsung secara silang
ataupun menyerbuk sendiri dan buah umunya terbentuk tunggal. Struktur buah
cabai besar terdiri atas kulit, daging buah, dan didalamnya terdapat sebuah
plasenta (tempat biji menempel secara tersusun) (Rukmana,2000).
Syarat tumbuh tanaman cabai adalah
dataran rendah hingga menengah pada ketinggian 0-800 m dpl dengan suhu berkisar
20-25oC, pada ketinggian di
atas 1.300 m dpl, cabai tumbuh sangat lambat dan pembentukan buahnya juga
terhambat. Adapun suhu bulanan yang dibutuhkan selama proses pembuahan berkisar
21-28oC. Tanaman cabai tidak
menghendaki curah hujan yang tinggi atau iklim yang basah karena pada keadaan
tersebut tanaman akan mudah terserang penyakit. Curah hujan yang baik untuk
tanaman cabai yaitu 600-1250 mm/tahun.Tanaman cabai dapat tumbuh dan
beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berpasir
hingga tanah liat. Umumnya tanah yang baik untuk pertanaman cabai yaitu tanah
lempung berpasir atau tanah ringan yang banyak mengandung bahan organik dan
unsur hara. Pertumbuhan cabai akan optimum jika ditanam pada tanah dengan pH
6-7. Tanaman cabai dapat ditanam kapanpun tanpa tergantung musim (Harpenas dan
Dermawan, 2010).
B.
Budidaya Tanaman Cabai
Pengolahan tanah
dilakukan untuk hasil produksi tanaman cabai keriting yang berkualitas.
Pengolahan tanah tersebut memiliki beberapa syarat (Anonim, 2015).
1. Tanaman
cabai memerlukan tanah yang gembur untuk tumbuh baik. Tanah yang digunakan
harus memiliki porositas yang baik.
2.
Pembajakan dan pencangkulan lahan
diusahakan sedalam 30 cm, hal ini dilakukan agar perakaran tanaman cabai tidak
terganggu oleh kepadatan tanah.
3. Pembuatan
bedengan dengan tinggi 30 cm yang memiliki jarak antar bedengan 60 cm,
sedangkan panjang bedengan tergantung dengan kondisi lahan dilapangan. Hal
tersebut dilakukan untuk memaksimalkan bedengan agar saluran drainase yang baik
karena pada umumnya tanaman cabai tidak akan tahan terhadap genangan. Tanaman
cabai memrlukan pH tanah sekitar 6 sampai 7, apabila pH di bawah itu maka perlu
ditambahkan kapur dengan takaran sebanyak 2 – 4 ton (tergantung berapa pH
awal).
4. Teknik
budidaya cabai intensif memerlukan bedengan dengan menggunakan mulsa plastik.
Penggunaan mulsa bermanfaat untuk menekan terjadinya erosi, mempertahankan
kelembaban tanah, mengendalikan gulma dan juga dapat sebagai salah satu pemutus
rantai hama dan penyakit tanaman cabai.
Tanaman cabai memerlukan perhatian
khusus dalam pemeliharaannya. Pemeliharaan yang perlu dilakukan antara lain:
penyiraman dan pengendalian gulma. Perkecambahan cabai akan berjalan dengan
baik apabila mendapatkan kelembaban yang cukup. Untuk itu, perlu dilakukan
penyiraman secara rutin. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari ketika awal masa
tanam, pagi dan sore. Penyiraman harus dilakukan secara hati – hati agar tidak
menggeser benih. Kemudian pengendalian gulma dilakukan secara rutin agar
tanaman mampu tumbuh dan berkembang secara efisien yang tidak melakukan
kompetisi dengan gulma (Warisno,2010).
Pemanenan dapat di lakukan pada umur 2,5
– 3 bulan di hitung sejak tanam. Pemanenan dapat di lakukan hingga tanaman
cabai mencapai umur 6 bulan bahkan bisa lebih, umur maksimal cabai adalah 24
bulan. Fase panen hingga 15-18 kali dalam sekali tanam. Perhitunganya pada umur
yang tua hasil panen akan berkurang dan kualitas cabai akan menurun sehingga
tidak ekonomis lagi. Pemanenan dilakukan pada pagi hari karena pada pagi hari
belum terjadi proses yang melibatkan cahaya matahari sehingga asimilat tidak
tereduksi. Cara pemanenan adalah dengan memetik buah berserta tangkainya. Buah
yang yang baik bentuknya ramping dan padat berisi. Tipe buah seperti ini
biasanya rasanya pedas dan dihargai lebih tinggi di pasar dibanding buah yang
besar namun kopong (Agrotani,2015).
Buah cabai dari setiap varietas cabai
mempunyai perbedaan dalam jumlah dan bobot per satuan berat, yang berpengaruh
terhadap rendemen biji. Perlakuan buah melalui penyimpanan buah beberapa hari
setelah panen akan lebih memudahkan dalam prosesing benih secara manual. Dalam
prosesing benih cabai, perontokan benih dapat dilakukan
secara manual untuk buah yang jumlahnya sedikit. Untuk buah yang jumlahnya
banyak dapat digunakan alat bantu seperti penggiling daging yang telah
dimodifikasi, yaitu ujung pisau ditumpulkan untuk mengekstrak benih cabai.
Untuk itu benih perlu dibersihkan dengan menggunakan air yang mengalir
(Kusandriani dan Muharam, 2005)
Jika kadar air benih awal sudah baik dan
konstan, yaitu lebih kurang 7%, maka untuk penyimpanan jangka menengah (medium)
benih ditempatkan di “Cold Storage” dengan kelembaban 15 – 50%. Dua faktor yang
menentukan kualitas dan daya tahan benih di tempat penyimpanan benih (gudang
benih) adalah kadar air benih dan suhu gudang penyimpanan “suhu rendah”. Untuk
penyimpanan benih jangka menengah (18 -24 bulan), suhu yang
diperlukan adalah 16 – 20 ºC, dan kelembaban 50% (Sutopo 1993).
C.
Ketahanan Tanaman Terhadap Penyakit
Ketahanan tanaman terhadap penyakit
didefinisikan sebagai suatu karakter yang memungkinkan tanaman terhindar,
mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari serangan penyakit dalam kondisi yang
akan menyebabkan kerusakan lebih besar pada tanaman oleh patogen (Hammerschmidt
dan Dann, 2000 dalam Firmansyah, 2008).
Ketahanan tanaman inang terhadap infeksi
patogen dibagi menjadi dua, yaitu ketahanan pasif dan aktif. Salah satu bentuk
ketahanan tanaman terhadap penyakit yaitu ketahanan mekanis yang merupakan
ketahanan aktif. Sifat ketahanan aktif terjadi setelah tanaman terinfeksi.
Ketahanan pasif disebabkan adanya srtuktur tanaman yang menjadi penghalang
patogen untuk melakukan penetrasi karena tanaman mempunyai epidermis yang
berkutikula tebal, lapisan lilin, dan jumlah stomata sedikit. Ketahanan
metabolik juga merupakan ketahanan pasif yang disebabkan adanya senyawa-senyawa
metabolit yang dihasilkan tanaman, baik sebelum maupun sesudah infeksi. Menurut
Hardi dan Darwiati (2007) sifat-sifat tanaman resisten dipengaruhi oleh faktor
(1) genetik yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik, (2)
morfologi yaitu sifat tahan yang disebebkan oleh sifat morfologi tanaman yang
tidak menguntungkan hama, dan (3) ekologi yaitu ketahanan tanaman yang
disebabkan oleh pengaruh lingkungan (Syukur et al., 2009).
Ketahanan genetik yaitu sifat tahan yang
diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan. Berdasarkan susunan dan
sifat-sifat gen, ketahanan genetik dapat dibedakan menjadi:
1. monogenik,
sifat tahan diatur oleh satu gen dominan atau resesif;
2. oligogenik,
sifat tahan diatur oleh beberapa gen yang saling menguatkan satu sama lain; dan
3. polygenik,
sifat tahan diatur oleh banyak gen yang saling menambah dan masing-masing gen
memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap biotipe patogen sehingga
mengakibatkan timbulnya ketahanan yang luas.
Ketahanan genetik juga dapat dibedakan
menjadi beberapa tipe yaitu ketahanan vertikal dan ketahanan horizontal.
Ketahanan vertikal adalah suatu bentuk ketahanan tanaman yang dikendalikan oleh
satu atau beberapa gen, biasanya sifatnya sangat tahan, sifat ketahanannya
sangat mudah patah, jadi kalau ketahanannya sudah patah maka seolah-olah
tanaman itu tidak mempunyai ketahanan. Tipe ketahanan vertikal dikendalikan
oleh gen tunggal (monogenik) atau oleh beberapa gen (oligogenik).
Secara
umum sifat ketahanan vertikal mempunyai ciri-ciri (Sutopo et al., 1992):
1. biasanya
diwariskan oleh gen tunggal atau hanya sejumlah kecil gen;
2. relatif
mudah diidentifikasi dan banyak dipakai dalam program perbaikan ketahanan
genetik;
3. menghasilkan
ketahanan genetik tingkat tinggi, tidak jarang mencapai imunitas, tetapi jika
timbul biotipe baru maka ketahanan ini akan mudah patah dan biasanya tanaman
menjadi sangat rentan terhadap biotipe tersebut; dan
4. biasanya
menunda awal terjadinya epidemi, tetapi apabila terjadi epidemi maka
kerentanannya tidak akan berbeda dengan kultivar yang rentan.
Tipe Ketahanan horizontal disebut juga
ketahanan kuantitatif. Tanaman yang memiliki ketahanan demikian masih
menunjukan sedikit kepekaan terhadap penyakit tetapi memiliki kemampuan untuk
memperlambat laju perkembangan penyakit.Secara teoritis, ketahanan horizontal
umumnya sulit dipatahkan. Kultivar dengan tipe ketahanan demikian dapat
diperoleh dengan cara mempersatukan beberapa gen ketahanan minor ke dalam suatu
kultivar dengan karakter agronomik yang unggul melalui pemuliaan konvensional
maupun non-konvesional (Kush, 1997).
Ciri-ciri
khusus ketahanan horizontal adalah (Sutopo et al., 1992):
1. biasanya
memiliki tingkat ketahanan yang lebih rendah dibandingkan dengan tipe ketahanan
vertikal, dan jarang didapat immunitas;
2. diwariskan
secara poligenik dan dikendalikan oleh beberapa atau banyak gen; dan
pengaruhnya terlihat dari penurunan laju perkembangan penyakit
Ketahanan terhadap
virus dilaporkan terdapat pada cabai keriting, menurut Jimenez et al.(2014)
galur cabai liar yang berasal dari New Mexico State University (NMSU) yaitu
NuMex Bailey Piquin, NuMex Twilight, PI 257053, PI 281297, PI 288938, PI 357522 memiliki ketahanan terhadap Beet Curly
Top Virus (BCTV) dan satu kultivar ‘NuMex Las Cruces'
cayenne’ tahan terhadap BMCTV, BSCTV dan BCTV. Ketahanan tanaman terhadap
penyakit dapat merupakan sifat kualitatif yang dikendalikan oleh gen mayor atau
sifat kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen minor. Bila ketahanan
dikendalikan oleh satu atau dua gen mayor, ragam ketahanan akan menunjukkan
sebaran diskontinu sehingga umumnya individu tanaman yang tahan mudah diidentifikasi.
Untuk sifat yang dikendalikan oleh gen-gen yang mengikuti prinsip Mendel
(disebut gen mayor) peranan ragam lingkungan relatif kecil dibandingkan peranan
ragam lingkungan pada sifat yang dikendalikan oleh gen-gen minor. Karena jumlah
gen mayor umumnya tidak banyak dan peranan faktor lingkungan relatif kecil,
maka ragam fenotipe yang ditampilkan dalam populasi bersegregasi sebagian besar
merupakan ragam genetik, bersifat diskontinu dan merupakan akibat adanya efek
dominan (Russel, 1981 dalam Hermawan et al.,
2014).
D.
Penyakit Antraknosa pada Cabai
Antraknosa (patek)
merupakan salah satu penyakit yang hingga saat ini masih menjadi kendala utama
dalam budidaya cabai, karena bisa menyebabkan kegagalan panen. Kehilangan
potensi hasil cabai akibat penyakit antraknosa dilaporkan bervariasi antara
25–100% (Hadden & Black 1988, Amilin et al. 1995, Wang & Sheu 2006,
Setiawati et al. 2011, Prathibha et al. 2013). Selain kuantitas, penyakit
antraknosa juga menurunkan kualitas cabai yang meliputi penurunan 16–69% kadar
penol, 20–60% kadar capsaisin, dan17–55% kadar oleoresin (Prathibha et al.
2013).
Gejala serangan penyakit
antraknosa pada buah ditandai dengan buah busuk berwarna kuning-cokelat,
seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang
muncul jelaga berwarna hitam, sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan
berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah.
Serangan pada tanaman dewasa dapat menyebabkan kematian pucuk yang berlanjut
dengan kematian bagian tanaman lainnya, seperti ranting dan cabang yang
mengering berwarna cokelat kehitaman. Pada batang cabai, aservulus cendawan
terlihat seperti tonjolan (Duriat 2007, Herwidyarti 2013). Buah yang terserang
antraknosa ditandai dengan gejala bercak berwarna hitam dan dapat berkembang
menjadi busuk lunak. Serangan berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering.
Patogen dapat juga menyerang pada buah yang sudah dipetik. Penyakit akan
berkembang dalam pengangkutan dan penyimpanan sehingga hasil panen akan
membusuk (Efri 2010). Penyebab penyakit antraknosa adalah cendawan Colletotrichum spp. Berdasarkan
morfologi spora, Colletotrichum spp.
dibagi menjadi empat spesies yaitu Colletotrichum
acutatum, Colletotrichum capsici, Colletotrichum gloeosporioides, dan Colletotrichum
cocodes (Wang & Sheu 2006, Than
et al. 2008).
Upaya pengendalian
terhadap penyakit antraknosa sampai saat ini masih mengandalkan pestisida kimia
sintetik yang digunakan secara intensif di tingkat petani. Menurut Ameriana
(2008) penggunaan pestisida kimia di tingkat petani sayuran diindikasikan dalam
jumlah yang berlebih. Hal ini berdampak terhadap tingginya tingkat residu
pestisida pada cabai (Mutiatikum & Raini 2006). Residu pestisida sangat
berbahaya bagi manusia, hasil penelitian Lubis et al. (2013) menunjukkan bahwa
residu pestisida yang terjadi pada fase kehamilan dapat menyebabkan mutasi
genetik dan menurunkan bakat leukimia pada individu tersebut dan keturunannya
pada masa mendatang.
Salah satu solusi untuk
memecahkan permasalahan penyakit antraknosa adalah melalui program pemuliaan
tanaman. Walaupun perakitan varietas tahan relatif memerlukan periode waktu
yang panjang, varietas tahan antraknosa tetap penting diwujudkan sebagai
kontribusi bidang pemuliaan tanaman untuk menurunkan tingkat penggunaan
pestisida oleh petani dan menyediakan produk aman bagi konsumen. Tahapan
kegiatan pemuliaan meliputi koleksi plasma nutfah, karakterisasi, seleksi
tetua, dan perluasan keragaman genetik (melalui hibridisasi, mutasi, fusi
protoplas, dan rekayasa genetika). Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan seleksi
setelah perluasan keragaman genetik, evaluasi, dan pengujian serta
pelepasan/pendaftaran varietas dan perbanyakan benih (Syukur et al. 2012,
Sutjahyo 2013).
Koleksi plasma nutfah
tahan antraknosa umumnya berasal dari genotip cabai hasil introduksi yang
bentuk dan ukuran buahnya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia,
sedangkan varietas cabai yang telah beredar di masyarakat dan diminati konsumen
tidak memiliki ketahanan terhadap serangan antraknosa. Perluasan keragaman
genetik melalui persilangan perlu dilakukan sebagai langkah awal program
pemuliaan perakitan varietas tahan antraknosa. Penelitian ini bertujuan
menyeleksi tetua tahan penyakit antraknosa dan mengetahui keberhasilan persilangan
antara tetua tahan dengan varietas Balitsa yaitu Kencana dan Tanjung-2 dalam
rangka memperluas keragaman genetik ketahanan terhadap penyakit antraknosa
sebagai bahan dasar untuk program seleksi.
Langganan:
Postingan (Atom)

