Minggu, 24 September 2017

Materi Kuliah Pekarangan






















Materi Kuliah Agroekologi

















Materi Kuliah Pekarangan dan Tanaman Buah

















Materi Kuliah Pengkajian Lapangan Agronomi























Materi Kuliah Pengelolaan Tanah















Senin, 18 September 2017

Tinjauan Pustaka Cabai

II.  TINJAUAN PUSTAKA

A. Botani Cabai
 Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) berasal dari daratan Amerika Selatan dan Amerika Tengah.  Tanaman cabai tumbuh kira-kira sejak 2500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat yang pertama kali memanfaatkan dan mengembangkan  cabai adalah orang Inca di Amerika Selatan, orang Maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko. Mereka memanfaatkannya sebagai bumbu masakan. Pada tahun 1500-an, bangsa Portugis mulai memperdagangkan  cabai ke Makao dan Goa, kemudian masuk ke India, Cina, dan Thailand. Hingga sekarang belum ada data yang pasti mengenai kapan  cabai dibawa masuk ke Indonesia. Menurut dugaan kemungkinan  cabai dibawa oleh saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh. Sumber lain menyebutkan bahwa  cabai masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis (Susmawati dan Muda, 2013). Sejak saat itu cabai berkembang pesat di Indonesia. Masyarakat Indonesia khususnya Jawa sudah terbiasa memanfaatkan buah cabai sebagai bumbu masakan dan daunnya sebagai obat luar. Penyebarluasan lewat biji atau benih diduga dilakukan secara tidak sengaja oleh burung-burung liar ( Setiadi, 2013). Klasifikasi tanaman cabai keriting adalah sebagai berikut (USDA, 2013):
Divisio      :  Magnoliophyta
Class         : Magnoliopsida
Subclass    :Asteridae
Ordo         : Solanales
Familia      :  Solanaceae
Subfamilia :  Solanoideae
Tribus        :  Capsiceae
Genus        :  Capsicum
Species      :Capsicum annuum L.
Tanaman cabai memiliki banyak ragam bentuk dan tipe pertumbuhan. Bentuk
dan ukuran buahnya bervariasi, mulai dari bulat, lonjong, hingga panjang dengan ukuran kecil sampai besar. Cabai yang sebagian besar hidup dan berkembang di Benua Amerika diperkirakan sebanyak 20 spesies. Masyarakat di Indonesia umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yaitu cabai besar, cabai keriting, cabai rawit, dan paprika (Harpenas dan Dermawan, 2010).
Menurut Djarwaningsih (1984), buah cabai besar (Capsicum annuum L.) memiliki panjang berkisar 6-10 cm, diameter 0,7-1,3 cm. Cabai besar di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok yaitu cabai merah besar dan cabai merah keriting. Permukaan buah cabai merah besar halus dan mengkilat serta mempunyai rasa pedas, sedangkan cabai merah keriting bentuknya lebih ramping dengan cita rasa sangat pedas. Cabai besar dapat tumbuh subur di dataran rendah sampai dataran tinggi. Cabai merah memiliki ciri-ciri antara lain bentuk buah besar, panjang, dan meruncing; buah muda berwarna hijau, sedangkan buah tua berwarna merah; banyak terdapat biji dan rasanya agak pedas.
Cabai keriting termasuk tanaman semusim, berbentuk perdu atau setengah perdu, mempunyai sistem perakaran agak menyebar, batang utama tumbuh tegak dan pangkalnya berkayu. Daun tumbuh secara tunggal dengan bentuk sangat bervariasi, yaitu lancip sampai bulat telur dan ujungnya runcing. Bentuk bunga cabai besar umumnya tunggal yang keluar dari ketiak-ketiak daun. Daun bunga berwarna putih atau unggu dan mempunyai lima benang sari serta satu buah putik. Penyerbukan dapat berlangsung secara silang ataupun menyerbuk sendiri dan buah umunya terbentuk tunggal. Struktur buah cabai besar terdiri atas kulit, daging buah, dan didalamnya terdapat sebuah plasenta (tempat biji menempel secara tersusun) (Rukmana,2000).
Syarat tumbuh tanaman cabai adalah dataran rendah hingga menengah pada ketinggian 0-800 m dpl dengan suhu berkisar 20-25oC, pada ketinggian di atas 1.300 m dpl, cabai tumbuh sangat lambat dan pembentukan buahnya juga terhambat. Adapun suhu bulanan yang dibutuhkan selama proses pembuahan berkisar 21-28oC. Tanaman cabai tidak menghendaki curah hujan yang tinggi atau iklim yang basah karena pada keadaan tersebut tanaman akan mudah terserang penyakit. Curah hujan yang baik untuk tanaman cabai yaitu 600-1250 mm/tahun.Tanaman cabai dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat. Umumnya tanah yang baik untuk pertanaman cabai yaitu tanah lempung berpasir atau tanah ringan yang banyak mengandung bahan organik dan unsur hara. Pertumbuhan cabai akan optimum jika ditanam pada tanah dengan pH 6-7. Tanaman cabai dapat ditanam kapanpun tanpa tergantung musim (Harpenas dan Dermawan, 2010).

B.  Budidaya Tanaman Cabai
Pengolahan tanah dilakukan untuk hasil produksi tanaman cabai keriting yang berkualitas. Pengolahan tanah tersebut memiliki beberapa syarat (Anonim, 2015).
1.   Tanaman cabai memerlukan tanah yang gembur untuk tumbuh baik. Tanah yang digunakan harus memiliki porositas yang baik.
2.   Pembajakan dan pencangkulan lahan diusahakan sedalam 30 cm, hal ini dilakukan agar perakaran tanaman cabai tidak terganggu oleh kepadatan tanah.
3.   Pembuatan bedengan dengan tinggi 30 cm yang memiliki jarak antar bedengan 60 cm, sedangkan panjang bedengan tergantung dengan kondisi lahan dilapangan. Hal tersebut dilakukan untuk memaksimalkan bedengan agar saluran drainase yang baik karena pada umumnya tanaman cabai tidak akan tahan terhadap genangan. Tanaman cabai memrlukan pH tanah sekitar 6 sampai 7, apabila pH di bawah itu maka perlu ditambahkan kapur dengan takaran sebanyak 2 – 4 ton (tergantung berapa pH awal).
4.   Teknik budidaya cabai intensif memerlukan bedengan dengan menggunakan mulsa plastik. Penggunaan mulsa bermanfaat untuk menekan terjadinya erosi, mempertahankan kelembaban tanah, mengendalikan gulma dan juga dapat sebagai salah satu pemutus rantai hama dan penyakit tanaman cabai.
Tanaman cabai memerlukan perhatian khusus dalam pemeliharaannya. Pemeliharaan yang perlu dilakukan antara lain: penyiraman dan pengendalian gulma. Perkecambahan cabai akan berjalan dengan baik apabila mendapatkan kelembaban yang cukup. Untuk itu, perlu dilakukan penyiraman secara rutin. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari ketika awal masa tanam, pagi dan sore. Penyiraman harus dilakukan secara hati – hati agar tidak menggeser benih. Kemudian pengendalian gulma dilakukan secara rutin agar tanaman mampu tumbuh dan berkembang secara efisien yang tidak melakukan kompetisi dengan gulma (Warisno,2010).
Pemanenan dapat di lakukan pada umur 2,5 – 3 bulan di hitung sejak tanam. Pemanenan dapat di lakukan hingga tanaman cabai mencapai umur 6 bulan bahkan bisa lebih, umur maksimal cabai adalah 24 bulan. Fase panen hingga 15-18 kali dalam sekali tanam. Perhitunganya pada umur yang tua hasil panen akan berkurang dan kualitas cabai akan menurun sehingga tidak ekonomis lagi. Pemanenan dilakukan pada pagi hari karena pada pagi hari belum terjadi proses yang melibatkan cahaya matahari sehingga asimilat tidak tereduksi. Cara pemanenan adalah dengan memetik buah berserta tangkainya. Buah yang yang baik bentuknya ramping dan padat berisi. Tipe buah seperti ini biasanya rasanya pedas dan dihargai lebih tinggi di pasar dibanding buah yang besar namun kopong (Agrotani,2015).
Buah cabai dari setiap varietas cabai mempunyai perbedaan dalam jumlah dan bobot per satuan berat, yang berpengaruh terhadap rendemen biji. Perlakuan buah melalui penyimpanan buah beberapa hari setelah panen akan lebih memudahkan dalam prosesing benih secara manual. Dalam prosesing benih cabai, perontokan benih dapat dilakukan secara manual untuk buah yang jumlahnya sedikit. Untuk buah yang jumlahnya banyak dapat digunakan alat bantu seperti penggiling daging yang telah dimodifikasi, yaitu ujung pisau ditumpulkan untuk mengekstrak benih cabai. Untuk itu benih perlu dibersihkan dengan menggunakan air yang mengalir (Kusandriani dan Muharam, 2005)
Jika kadar air benih awal sudah baik dan konstan, yaitu lebih kurang 7%, maka untuk penyimpanan jangka menengah (medium) benih ditempatkan di “Cold Storage” dengan kelembaban 15 – 50%. Dua faktor yang menentukan kualitas dan daya tahan benih di tempat penyimpanan benih (gudang benih) adalah kadar air benih dan suhu gudang penyimpanan “suhu rendah”. Untuk penyimpanan benih jangka menengah (18 -24 bulan), suhu yang diperlukan adalah 16 – 20 ºC, dan kelembaban 50% (Sutopo 1993).

C. Ketahanan Tanaman Terhadap Penyakit
Ketahanan tanaman terhadap penyakit didefinisikan sebagai suatu karakter yang memungkinkan tanaman terhindar, mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari serangan penyakit dalam kondisi yang akan menyebabkan kerusakan lebih besar pada tanaman oleh patogen (Hammerschmidt dan Dann, 2000 dalam Firmansyah, 2008).
Ketahanan tanaman inang terhadap infeksi patogen dibagi menjadi dua, yaitu ketahanan pasif dan aktif. Salah satu bentuk ketahanan tanaman terhadap penyakit yaitu ketahanan mekanis yang merupakan ketahanan aktif. Sifat ketahanan aktif terjadi setelah tanaman terinfeksi. Ketahanan pasif disebabkan adanya srtuktur tanaman yang menjadi penghalang patogen untuk melakukan penetrasi karena tanaman mempunyai epidermis yang berkutikula tebal, lapisan lilin, dan jumlah stomata sedikit. Ketahanan metabolik juga merupakan ketahanan pasif yang disebabkan adanya senyawa-senyawa metabolit yang dihasilkan tanaman, baik sebelum maupun sesudah infeksi. Menurut Hardi dan Darwiati (2007) sifat-sifat tanaman resisten dipengaruhi oleh faktor (1) genetik yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik, (2) morfologi yaitu sifat tahan yang disebebkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, dan (3) ekologi yaitu ketahanan tanaman yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan (Syukur et al., 2009).
Ketahanan genetik yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan. Berdasarkan susunan dan sifat-sifat gen, ketahanan genetik dapat dibedakan menjadi:
1.   monogenik, sifat tahan diatur oleh satu gen dominan atau resesif;
2.   oligogenik, sifat tahan diatur oleh beberapa gen yang saling menguatkan satu sama lain; dan
3.   polygenik, sifat tahan diatur oleh banyak gen yang saling menambah dan masing-masing gen memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap biotipe patogen sehingga mengakibatkan timbulnya ketahanan yang luas.
Ketahanan genetik juga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu ketahanan vertikal dan ketahanan horizontal. Ketahanan vertikal adalah suatu bentuk ketahanan tanaman yang dikendalikan oleh satu atau beberapa gen, biasanya sifatnya sangat tahan, sifat ketahanannya sangat mudah patah, jadi kalau ketahanannya sudah patah maka seolah-olah tanaman itu tidak mempunyai ketahanan. Tipe ketahanan vertikal dikendalikan oleh gen tunggal (monogenik) atau oleh beberapa gen (oligogenik).
Secara umum sifat ketahanan vertikal mempunyai ciri-ciri (Sutopo et al., 1992):
1.   biasanya diwariskan oleh gen tunggal atau hanya sejumlah kecil gen;
2.   relatif mudah diidentifikasi dan banyak dipakai dalam program perbaikan ketahanan genetik;
3.   menghasilkan ketahanan genetik tingkat tinggi, tidak jarang mencapai imunitas, tetapi jika timbul biotipe baru maka ketahanan ini akan mudah patah dan biasanya tanaman menjadi sangat rentan terhadap biotipe tersebut; dan
4.   biasanya menunda awal terjadinya epidemi, tetapi apabila terjadi epidemi maka kerentanannya tidak akan berbeda dengan kultivar yang rentan.
Tipe Ketahanan horizontal disebut juga ketahanan kuantitatif. Tanaman yang memiliki ketahanan demikian masih menunjukan sedikit kepekaan terhadap penyakit tetapi memiliki kemampuan untuk memperlambat laju perkembangan penyakit.Secara teoritis, ketahanan horizontal umumnya sulit dipatahkan. Kultivar dengan tipe ketahanan demikian dapat diperoleh dengan cara mempersatukan beberapa gen ketahanan minor ke dalam suatu kultivar dengan karakter agronomik yang unggul melalui pemuliaan konvensional maupun non-konvesional (Kush, 1997).
Ciri-ciri khusus ketahanan horizontal adalah (Sutopo et al., 1992):
1.   biasanya memiliki tingkat ketahanan yang lebih rendah dibandingkan dengan tipe ketahanan vertikal, dan jarang didapat immunitas;
2.   diwariskan secara poligenik dan dikendalikan oleh beberapa atau banyak gen; dan pengaruhnya terlihat dari penurunan laju perkembangan penyakit
Ketahanan terhadap virus dilaporkan terdapat pada cabai keriting, menurut Jimenez et al.(2014) galur cabai liar yang berasal dari New Mexico State University (NMSU) yaitu NuMex Bailey Piquin, NuMex Twilight, PI 257053, PI 281297, PI 288938, PI 357522 memiliki ketahanan terhadap Beet Curly Top Virus (BCTV) dan satu kultivar ‘NuMex Las Cruces' cayenne’ tahan terhadap BMCTV, BSCTV dan BCTV. Ketahanan tanaman terhadap penyakit dapat merupakan sifat kualitatif yang dikendalikan oleh gen mayor atau sifat kuantitatif yang dikendalikan oleh banyak gen minor. Bila ketahanan dikendalikan oleh satu atau dua gen mayor, ragam ketahanan akan menunjukkan sebaran diskontinu sehingga umumnya individu tanaman yang tahan mudah diidentifikasi. Untuk sifat yang dikendalikan oleh gen-gen yang mengikuti prinsip Mendel (disebut gen mayor) peranan ragam lingkungan relatif kecil dibandingkan peranan ragam lingkungan pada sifat yang dikendalikan oleh gen-gen minor. Karena jumlah gen mayor umumnya tidak banyak dan peranan faktor lingkungan relatif kecil, maka ragam fenotipe yang ditampilkan dalam populasi bersegregasi sebagian besar merupakan ragam genetik, bersifat diskontinu dan merupakan akibat adanya efek dominan (Russel, 1981 dalam Hermawan et al., 2014).

D. Penyakit Antraknosa pada Cabai
Antraknosa (patek) merupakan salah satu penyakit yang hingga saat ini masih menjadi kendala utama dalam budidaya cabai, karena bisa menyebabkan kegagalan panen. Kehilangan potensi hasil cabai akibat penyakit antraknosa dilaporkan bervariasi antara 25–100% (Hadden & Black 1988, Amilin et al. 1995, Wang & Sheu 2006, Setiawati et al. 2011, Prathibha et al. 2013). Selain kuantitas, penyakit antraknosa juga menurunkan kualitas cabai yang meliputi penurunan 16–69% kadar penol, 20–60% kadar capsaisin, dan17–55% kadar oleoresin (Prathibha et al. 2013).
Gejala serangan penyakit antraknosa pada buah ditandai dengan buah busuk berwarna kuning-cokelat, seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang muncul jelaga berwarna hitam, sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Serangan pada tanaman dewasa dapat menyebabkan kematian pucuk yang berlanjut dengan kematian bagian tanaman lainnya, seperti ranting dan cabang yang mengering berwarna cokelat kehitaman. Pada batang cabai, aservulus cendawan terlihat seperti tonjolan (Duriat 2007, Herwidyarti 2013). Buah yang terserang antraknosa ditandai dengan gejala bercak berwarna hitam dan dapat berkembang menjadi busuk lunak. Serangan berat dapat menyebabkan seluruh buah mengering. Patogen dapat juga menyerang pada buah yang sudah dipetik. Penyakit akan berkembang dalam pengangkutan dan penyimpanan sehingga hasil panen akan membusuk (Efri 2010). Penyebab penyakit antraknosa adalah cendawan Colletotrichum spp. Berdasarkan morfologi spora, Colletotrichum spp. dibagi menjadi empat spesies yaitu Colletotrichum acutatum, Colletotrichum capsici, Colletotrichum gloeosporioides, dan Colletotrichum cocodes (Wang & Sheu 2006, Than et al. 2008).
Upaya pengendalian terhadap penyakit antraknosa sampai saat ini masih mengandalkan pestisida kimia sintetik yang digunakan secara intensif di tingkat petani. Menurut Ameriana (2008) penggunaan pestisida kimia di tingkat petani sayuran diindikasikan dalam jumlah yang berlebih. Hal ini berdampak terhadap tingginya tingkat residu pestisida pada cabai (Mutiatikum & Raini 2006). Residu pestisida sangat berbahaya bagi manusia, hasil penelitian Lubis et al. (2013) menunjukkan bahwa residu pestisida yang terjadi pada fase kehamilan dapat menyebabkan mutasi genetik dan menurunkan bakat leukimia pada individu tersebut dan keturunannya pada masa mendatang.
Salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan penyakit antraknosa adalah melalui program pemuliaan tanaman. Walaupun perakitan varietas tahan relatif memerlukan periode waktu yang panjang, varietas tahan antraknosa tetap penting diwujudkan sebagai kontribusi bidang pemuliaan tanaman untuk menurunkan tingkat penggunaan pestisida oleh petani dan menyediakan produk aman bagi konsumen. Tahapan kegiatan pemuliaan meliputi koleksi plasma nutfah, karakterisasi, seleksi tetua, dan perluasan keragaman genetik (melalui hibridisasi, mutasi, fusi protoplas, dan rekayasa genetika). Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan seleksi setelah perluasan keragaman genetik, evaluasi, dan pengujian serta pelepasan/pendaftaran varietas dan perbanyakan benih (Syukur et al. 2012, Sutjahyo 2013).

Koleksi plasma nutfah tahan antraknosa umumnya berasal dari genotip cabai hasil introduksi yang bentuk dan ukuran buahnya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia, sedangkan varietas cabai yang telah beredar di masyarakat dan diminati konsumen tidak memiliki ketahanan terhadap serangan antraknosa. Perluasan keragaman genetik melalui persilangan perlu dilakukan sebagai langkah awal program pemuliaan perakitan varietas tahan antraknosa. Penelitian ini bertujuan menyeleksi tetua tahan penyakit antraknosa dan mengetahui keberhasilan persilangan antara tetua tahan dengan varietas Balitsa yaitu Kencana dan Tanjung-2 dalam rangka memperluas keragaman genetik ketahanan terhadap penyakit antraknosa sebagai bahan dasar untuk program seleksi.

Tinjauan Pustaka Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA

See More
See More

A.      Botani Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman dari jenis palm yang umumnya dibudidayakan untuk diambil minyak nabatinya. Dalam klasifikasi tanaman, posisi tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut (Pahan, 2013):
Divisi        : Embryophyta Siphonagama
Kelas        : Angiospermae
Ordo         : Monocotyledonae
Famili       : Arecaceae
Subfamili  : Cocoideae
Genus       : Elaeis
Spesies     :
1.      Elaeis guineensis Jacq.
2.      Elaeis oleifera (H.B.K) Cortes
3.      Elaeis odora
Terdapat 3 spesies tanaman kelapa sawit yaitu Elaeis guineensis Jacq., Elaeis oleifera dan Elaeis odora. Dari ketiga spesies kelapa sawit ini spesies Elaeis guineensis Jacq. merupakan spesies kelapa sawit yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia (Andoko dan Widodoro, 2013).
Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman monokotil. Batang tanaman ini lurus, umumnya tidak bercabang dan tidak memiliki kambium. Tanaman ini termasuk tanaman monoecious atau tanaman berumah satu dimana bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu pohon. Kedua jenis bunga yang keluar dari ketiak pelepah daun berkembang terpisah. Penyerbukan dapat terjadi secara silang maupun menyerbuk sendiri. Tanaman kelapa sawit dapat menjadi bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif terdiri atas akar, batang, dan daun. Sedangkan bagian generatif terdiri dari bagian bunga dan buah (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008). Bagian-bagian tanaman kelapa sawit yaitu:
1.    Akar
Sistem perakaran tanaman kelapa sawit adalah sistem akar serabut, terdiri dari akar primer, sekunder, tersier dan kuartener. Akar primer umumnya berdiameter antara 6-10 mm, keluar dari pangkal batang dan menyebar secara horizontal dan menghujam ke dalam tanah dengan sudut yang beragam. Akar primer bercabang membentuk akar sekunder yang diameternya antara 2-4 mm. Akar sekunder bercabang membentuk akar tersier dengan diameter 0,7-1,2 mm dan umumnya bercabang lagi membentuk akar kuartener (Pahan, 2013).
Perakaran tanaman kelapa sawit yang paling padat berada pada kedalaman 25 cm. Panjang akar yang tumbuh ke samping dapat mencapai panjang 6 m. Tanaman kelapa sawit tidak boleh terendam air, oleh karena itu permukaan air tanah harus diupayakan sedalam 80-100 cm, khusunya pada areal lahan gambut drainasenya harus lancar (Risza, 1994).
2.    Batang
Pada batang tanaman kelapa sawit, terjadi pembengkakan pangkal batang (bole) yang terjadi karena internodia (ruas batang) dalam masa pertumbuhan awal tidak memanjang sehingga pangkal-pangkal pelepah daun yang tebal berdesakan. Bongkol batang ini membantu memperkokoh posisi pohon pada tanah agar dapat berdiri tegak. Pada tahun pertama sampai tahun kedua perkembangan batang lebih mengarah ke samping, diameter batang dapat mencapai 60 cm. Setelah itu pertumbuhan tanaman kelapa sawit akan mengarah keatas sehingga diameter batang menjadi sekitar 40 cm. Pemanjangan batang berlangsung lambat, tinggi pohon bertambah 35-75 cm per tahun (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).
3.    Daun
Daun tanaman kelapa sawit terdiri dari tangkai daun yang pada kedua sisinya terdapat duri (spines). Tangkai daun bersambung dengan tulang daun utama (rachis) yang jauh lebih panjang dari tangkai dan pada kanan-kirinya terdapat anak daun (pinna;pinnata). Tiap anak daun terdiri dari tulang anak daun (lidi) dan helai daun (lamina). Anak daun terpanjang  yang terletak pada bagian pertengahan daun panjangnya dapat mencapai 1,2 m. Jumlah anak daun dapat mencapai 250-300 helai per daun (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).
Letak daun pada batang mengikuti pola tertentu yang disebut filositaksis. Daun yang berurutan dari bawah ke atas membentuk suatu spiral dengan rumus daun 1/8. Maksud dari rumus daun 1/8 ini adalah setiap spiral yang terbentuk tersusun dari daun dengan kelipatan 8 (Risza, 1994).
4.    Bunga
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman monoecious (berumah satu) artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu pohon tetapi tidak berada pada posisi yang sama. Meskipun demikian, kadang-kadang dijumpai juga bunga jantan dan bunga betina pada satu tandan (hemaprodit). Bunga muncul dari ketik daun. Bunga jantan maupun bunga betina mempunyai ibu tangkai bunga yang merupakan struktur pendukung spikelet (Pahan, 2013)
5.    Buah
Buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah yang terdiri dari pericarp yang terbungkus oleh exocarp (kulit), mesocarp (daging buah), endocarp (cangkang) dan karnel (inti). Lama pembentukan buah, dari setelah terjadi penyerbukan sampai pemasakan buah dipengaruhi oleh keadaan iklim dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Lama proses pemasakan buah berbeda-beda ditiap daerah yang memiliki kondisi iklim yang berbeda. Di Sumatra berkisar antara 5-6 bulan, sedangkan di Afrika lama pemasakan buah berkisar antara 6-9 bulan (Setyamidjaja, 2006).
Proses pembentukan minyak pada buah kelapa sawit berlangsung selama 24 hari, yaitu sampai buah mencapai tingkat masak. Masaknya buah kelapa sawit dalam satu tandan tidak terjadi bersamaan, melainkan berangsur-angsur dimulai dari bagian atas dan bagian samping yang terkena sinar matahari menuju bagian pangkal tandan. Suatu tandan buah kelapa sawit dikatakan sudah masak ketika ada beberapa buah yang sudah rontok (Setyamidjaja, 2006).
B.  Syarat Tumbuh Kelapa Sawit
Keberhasilan budidaya suatu komoditas sangat bergantung pada varietas tanaman yang ditanam, agroekologis lahan dan pengelolaan yang dilakukan oleh pembudidaya. Lingkungan agroekologi sangatlah memegang peran yang sangat penting dalam budidaya tanaman kelapa sawit. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit :
1.    Iklim
Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada 15°LU-5°LS, ketinggian yang ideal berkisar antara 0-400 mdpl, curah hujan sebesar 2.000-2.500 mm/tahun, suhu optimum adalah 29-30°C, intensitas sinar matahari sekitar 5 - 7 jam/hari dengan rata-rata penyinaran 6 jam /hari, kelembaban optimum sekitar 80-90 % (Sasongko, 2010). Kesesuaian lahan kelas 1 untuk budidaya tanaman kelapa sawit menghendaki curah hujan sebesar 2000–2500 mm/tahun dengan distribusi merata. Tetapi masih ditoleransi sampai dengan 1500 mm/tahun. Curah hujan lebih dari 2500 mm akan menstimulasi terjadinya erosi yang akan menurunkan kesuburan tanah, sedangkan bulan kering yang  signifikan akan mengakibatkan terjadinya defisit  air dan dapat menekan produksi (Sasongko, 2010). Menurut Sastrosayono (2003), curah hujan yang terlalu tinggi tidak akan berpengaruh nyata terhadap produksi tanaman kelapa sawit asalkan drainase lahan cukup baik dan penyinaran matahari cukup.
Temperatur yang paling sesuai  untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah 22–33oC. Sinar matahari diperlukan untuk memproduksi karbohidrat dan memacu pertumbuhan bunga dan buah (Sasongko, 2010). Menurut Sastrosayono (2003), semakin  panjang hari penyinaran menunjukkan korelasi positif terhadap produksi tanaman kelapa sawit. Pada tanaman kelapa sawit dewasa yang ternaungi, produksi bunga betinanya sedikit sehingga rasio bunga betina dan jantannya kecil.
2.    Tanah
Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol dengan  nilai pH optimum adalah 5,0–5,5, tanah gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Solum tanah >80cm tanpa ada lapisan padas, tekstur lempung atau liat dengan komposisi pasir 20–60%, debu 10 –40%, liat 20–50. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada tanah yang memiliki kandungan unsur hara yang tinggi, dengan C/N mendekati 10 dimana C 1% dan N 0,1% (Sasongko, 2010).
Pada daerah lahan gambut, drainase yang tidak tepat menjadi faktor penghamabat dalam menunjang produktivitas kelapa sawit. Drainase merupakan keadaan tata air dalam tubuh profil tanah yang merupakan resultan atau hasil akhir dari gerakan air yang turun ke bawah (air perkolasi) dan air aliran permukaan (run off). Kedalaman muka air tanah ikut mempengaruhi keadaan drainase karena gerakan air kapiler kearah permukaan tanah ikut mempengaruhi basah atau keringnya tubuh tanah (Krisnohadi, 2011).
C.  Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit
Pemeliharaan TBM merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan pengolahan lahan dan penanaman. Beberapa kegiatan pemeliharaan yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan dan optimalisasi produktivitas kelapa sawit yaitu pemeliharaan piringan pokok, pemupukan, pengendalian OPT, kastrasi dan penunasan daun.
1.    Pemeliharaan piringan pokok dan gawangan
Pembuatan piringan dilakukan untuk mempermudah pekerja dalam melakukan pemupukan dan pengontrolan. Area piringan yang bebas dari gulma biasanya sekitar 30 cm di luar luas tajuk atau maksimal 150 cm dari pokok (Sunarko, 2014). Pemeliharaan piringan dan gawangan pada tanaman belum menghasilkan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara manual dan cara kimiawi. Cara manual dilakukan dengan menggaruk gulma yang berada di dalam area piringan. Gulma digaruk ke arah luar piringan pokok secara bergantian, gulma-gulma tersebut dikumpulkan secara merata di pinggir piringan. Cara pengendalian gulma secara kimiawi dilakukan dengan menyemprot gulma menggunakan herbisida glifosat. Penyemprotan herbisida diusahakan tidak mengenai daun dan bunga tanaman kelapa sawit (Andoko dan Widodoro, 2013).
2.    Pemupukan
 Jenis pupuk yang sering diberikan pada tanaman belum menghasilkan adalah pupuk buatan yang mengandung unsur N, P, K, Mg dan B. Pada tanah gambut perlu diberi pupuk yang mengandung unsur hara mikro Cu dan Zn. Kondisi kekurangan hara N, P, K dan Mg pada tanaman dapat menyebabkan tanaman kelapa sawit muda pertumbuhannya akan terhambat, sehingga tanaman akan terlihat kerdil tetapi tidak menyebabkan kematian apabila defisiensi unsur tidak terlalu parah (Setyamidjaja, 2006). Pada fase TBM, jenis pupuk yang sering digunakan adalah pupuk majemuk. Pupuk kimia majemuk ini bersifat tidak mudah tercuci dan menguap sehingga pupuk ini cocok digunakan pada lahan marjinal (Andoko dan Widodoro, 2013). Sedangkan jenis pupuk organik yang banyak digunakan antara lain pupuk kandang, kompos, gambut, dan pupuk alam seperti: dolomite, fosfat alam, kiserit dan juga abu. Pupuk organik dapat meningkatkan KTK (Kapasitas Tukar Kation), sehingga tanaman lebih mudah menyerap hara, meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan lengas tanah (Andoko dan Widodoro, 2013). Pemupukan pada fase TBM dapat dilakukan dengan cara tebar atau benam. Pada pemupukan cara tebar, pupuk ditebar di piringan dengan jarak 0,5 m dari pokok, sedangkan pada pemupukan dengan cara benam, pupuk dibenamkan di dalam 4- 6 lubang mengelilingi piringan dengan jarak 1 m dari pokok kemudian ditutup dengan tanah. Waktu pemupukan biasanya pada awal dan akhir musim hujan (Andoko dan Widodoro, 2013).
3.    Pengendalian OPT
Pada suatu kegiatan usaha budidaya, kehadiran organisme pengganggu tanaman tidak dapat dipungkiri, termasuk dalam kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Organisme pengganggu ini berupa gulma, hama dan patogen. Gulma pada fase TBM pada umumnya sama dengan gulma yang mengganggu tanaman kelapa sawit pada fase TM. Gulma yang sering mengganggu pertanaman kelapa sawit dibagi menjadi dua macam, yaitu gulma berbahaya dan gulma lunak. Gulma-gulma yang termasuk kelompok ini adalah lalang (Imperata cylindrica), sambung rambat (Mikania cordata), lempuyangan (Panicum rapens), teki (Cyperus rotundus), serta gulma berkayu lainnya. Gulma lunak merupakan gulma yang keberadaan pada sekitaran tanaman pokok masih bisa ditolerir. Gulma-gulma yang termasuk kedalam kelompok gulma lunak diantaranya babadotan (Ageratum conyzoides), rumput kipahit (Paspalum conjugatum) dan pakis (Nephrolepis biserata) (Setyamidjaja, 2006).
Pengendalian gulma di pertanaman kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara manual, kimia dan kultur teknis. Pengendalian secara manual dilakukan menggunakan alat konvensional dengan upaya konvensional pula, seperti dibabat, dicangkul dan digarpu. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menggunakan herbisida baik herbisida kontak maupun herbisida sistemik. Pada pengendalian kultur teknis dilakukan dengan cara penanaman tanaman penutup tanah jenis kacang-kacangan (Legume Cover Crop/LCC) (Setyamidjaja, 2006).
Hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah ulat api, ulat kantong, tikus, rayap, kumbang tanduk, dan kumbang malam. Pengendalian hama terutama hama serangga menggunakan insektisida. Pengendalian hama tikus dilakukan dengan cara memasang umpan Klerat RM-B atau umpan jenis lainnya yang direkomendasikan Lembaga Penelitian Kelapa Sawit. Pengendalian dilakukan dua kali dalam setahun (Pahan, 2013).
Penyakit pada tanaman kelapa sawit yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi yaitu bintik (Cercospora elaedist), busuk batang ganoderma (Ganoderma spp.), busuk batang armilaria (Armillariella mellea), busuk daun corticium (Corticium solani) dan busuk marasmius  (Marasmius palmivora), serta beberapa penyakit yang menyebabkan kerugian ekonomi yang ringan. Pengendalian penyakit pada tanaman kelapa sawit dilakukan dengan cara kimiawi, penghilangan bagian tanaman yang terinfeksi serta sanitasi lahan untuk mencegah timbulnya penyakit (Kurian dan Peter, 2007).
4.    Kastrasi
Tanaman kelapa sawit sudah mulai berbunga pada umur 14- 20 bulan. Untuk mendukung pertumbuhan vegetatif pada fase TBM maka tanaman yang sudah menghasilkan bunga pada umur muda ini dikastrasi (Purwanto, 2010). Kastrasi atau ablasi merupakan serangkaian kegiatan penghilangan semua produk generatif yaitu berupa bunga jantan, bunga betina dan tandan buah. Memelihara tandan buah pada awal pembungaan dinilai kurang menguntungkan karena tandan yang muncul kecil dan randemen minyaknya rendah (Kurian dan Peter, 2007). Kastrasi dapat dimulai jika 25% tanaman sudah mulai berbunga. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan, dimulai dari bulan ke-14 sampai bulan ke-26 setelah penanaman (Sunarko, 2007). Manfaat dari kegiatan kastrasi bagi tanaman kelapa sawit antara lain untuk merangsang pertumbuhan vegetatif, menghemat penggunaan unsur hara dan air, mengurangi resiko serangan hama Tirathaba dan cendawan marasmus serta agar pada saat panen perdana ukuran tandan lebih besar, berat dan sempurna (Risza, 2010).  
5.    Penunasan/pemangkasan daun (pruning)
Pemangkasan merupakan upaya pengurangan sebagian daun pada batang tanaman kelapa sawit denga tujuan-tujuan tertentu. Pada masa tanaman belum menghasilkan, kegiatan pemangkasan dilakukan untuk mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman, memudahkan proses pemanenan apabila tanaman sudah mulai menghasilkan buah, selain itu pemangkasan pada tanaman kelapa sawit perlu dilakukan karena daun kelapa sawit memiliki sifat tidak mudah rontok meski daunnya telah kering, daun yang telah kering akan rontok beberapa tahun kemudian (Setyamidjaja, 2006).
Tanaman menghasilkan merupakan tanaman kelapa sawit dengan kondisi lebih dari 25% sudah mulai menghasilkan TBS dengan berat lebih dari 3kg. Sasaran pemeliharaan TM diantaranya memacu pertumbuhan daun dan buah seimbang, mempertahankan buah agar mencapai kematangan yang maksimal, dan menjaga kesehatan tanaman kelapa sawit. Karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut, diantaranya pemupukan yang tepat, menjaga tanaman dari segala gangguan seperti gulma dan hama penyakit, serta konservasi air yang memadai (Sunarko, 2009).
D.    Tahapan Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
Tahapan budidaya tanaman kelapa sawit meliputi pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit serta panen.
1.      Pembibitan
Pembibitan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu  pembibitan diperlukan untuk memperpendek waktu antara persiapan lapangan dan penanaman pertama sehingga begitu lahan siap tanam bibit sudah siap untuk ditanam. Pembibibitan juga dimaksudkan untuk mendapatkan bibit kelapa sawit yang bermutu tinggi. Lokasi pembibitan kelapa sawit – baik di kebun tradisional maupun di areal pengembangan harus memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut : (Pahan, 2012)
a.    Topografi yang datar untuk memudahkan pengaturan bibit dan mengurangi erosi akibat hujan lebat dan penyiraman. Sebisa mungkin, lokasi pembibitan terlatak di tengah kebun.
b.    Dekat dengan sumber air yang tersedia cukup banyak.
c.    Drainase harus baik sehingga air hujan tidak akan tergenang.
d.   Areal harus jauh dari sumber hama dan penyakit, tersanitasi dengan baik dan terbuka, serta tidak terhalang oleh pohon-pohon besar atau bangunan.
Pada saat penanaman kecambah, kecambah-kecambah yang abnormal, patah, busuk dan lain-lain harus diseleksi sebelum ditanam di polibag dengan melakukan uji berat jenis. Ciri kecambah normal dapat dilihat pada pucuk dan akarnya yang dapat dibedakan dengan jelas. Bentuk pucuk kecambah meruncing sedangkan akar agak tumpul, panjang sekitar 8-25 mm, berwarna putih gading dan posisinya saling bertolak belakang (Pahan, 2012).
2.      Penanaman
2.1  Penentuan pola tanam
Pola tanam kelapa sawit dapat monokultur ataupun tumpangsari. Pada pola tanam monokulltur, sebaiknya penanaman tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai. Tanaman penutup tanah (legume cover crop atau LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma) (Kiswanto dkk., 2008)
2.2  Pembuatan lubang tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukurannya adalah 50x40x40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah bagian atas dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan Selatan lubang. (Kiswanto dkk., 2008)
2.3  Penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Adapun tahapan penanaman sebagai berikut: (Kiswanto dkk., 2008)
a.         Letakkan bibit yang berasal dari polibag di masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.
b.        Siram bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
c.         Sebelum penanaman dilakukan pemupukan dasar lubang tanam dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250gr/lubang.
d.        Buat keratan vertikal pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hati-hati, kemudian dimasukkan ke dalam lubang.
e.         Timbun bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.
f.         Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.
g.        Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan
2.4  Pemeliharaan
2.4.1        Penyulaman dan penjarangan
Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuh kurang baik. Penyulaman yang baik dilakukan pada musim hujan. Banyaknya sulaman sekitar 3-5% setiap hektarnya. Cara penyulaman sama dengan cara menanam bibit. (Kiswanto dkk., 2008)
2.4.2        Pengendalian gulma
Pengendalian gulma merupakan kegiatan untuk menekan pertumbuhan gulma agar tidak menggangu pertumbuhan dan produksi tanaman. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan kimiawi. Cara manual menggunakan alat tebas atau sejenisnya. Lakukan rotasi penyiangan setiap satu bulan sekali. Penyiangan secara kimiawi dilakukan dengan menyemprotkan herbisida sesuai dosis yang tertera pada label kemasan (Sunarko, 2009).
2.4.3        Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur dengan jumlah yang cukup. Jika musim kemarau di siram dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Kebutuhan air penyiramann sebanyak 2 liter air/tanaman/hari.
2.4.4        Pemupukan
Pemupukan merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi yang dihasilkan. Salah satu efek pemupukan yaitu meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produktivitas tanaman menjadi relatif stabil. Selain itu, pemupukan bermanfaat melengkapi penyediaan unsur hara di dalam tanah sehingga kebutuhan tanaman terpenuhi dan pada akhirnya tercapai daya hasil (produktivitas) yang maksimal.
                        Untuk meningkatkan produksi maksimal kelapa sawit, maka dalam pelaksanaan pemupukan harus mengacu pada tujuh tepat, yaitu tepat jenis, dosis, waktu, cara, penempatan, bentuk formulasi, dan rotasi. Pupuk merupakan salah satu sumber unsur hara utama yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Penyediaan hara dalam tanah melalui pemupukan harus seimbang, yaitu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Untuk mencapai kondisi tanah yang subur diperlukan kombinasi pemakaian pupuk organik dan anorganik. Unsur hara utama yang mendapat perhatian dalam pemupukan tanaman kelapa sawit meliputi N, P, K, Mg, Cu, dan B (Saputra, 2011).
            Tabel 1. Dosis Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Unsur Tanaman.
Jenis Pupuk
Dosis (Kg/Pokok/Tahun) *)
Umur Tanaman
5 – 5
6 – 12
>12
Sulphate of Amonia (ZA)
1,0 – 2,0
2,0 – 3,0
1,5 – 3,0
Rock Phosphate (RP)
0,5 – 1,0
1,0 – 2,0
0,5 – 1,0
Muriate of Potash (KCl)
0,4 – 1,0
1,5 – 3,0
1,5 – 2,0
Kieserite (MgSO4)
0,5 – 1,0
1,0 – 2,0
0,5 – 1,5
   Sumber: Lubis (1992)
*) Keterangan : Pupuk N, K, dan Mg diberikan dua kali aplikasi, pupuk P diberikan satu kali aplikasi, dan pupuk B (bila diperlukan) diberikan dua kali aplikasi per tahun (salah satu contoh dosis B  adalah 0,05 – 0,1 Kg per pohon per tahun). Pemupukan kelompok TM sebenarnya merupakan lanjutan dari pemupukan yang pernah dilakukan saat tanaman masih berumur TBM. Oleh karena itu, jadwal dan aplikasinya harus berturutan dan saling terkait. Jenis pupuk yang diberikan pada kelompok umur TM adalah sama dengan pupuk yang diberikan pada kelompok umur TBM. Dosis pupuk harus disesuaikan dengan umur dan tingkat produksi tanaman (Hadi, 2004).
2.4.5        Pemangkasan
Teknik pemangkasan dilakukan secara teratur sesuai dengan perkembangan atau umur tanaman yang ada. Adapun tujuan pemangkasan pada tanaman secara umum adalah adalah sebagai berikut (Setyamidjaja, 2006) :
a.       Memperbaiki sirkulasi udara di sekitar tanaman sehingga dapat membantu proses penyerbukan secara alami.
b.      Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah terjepit pada pelepah daun.
c.       Membantu dan memudahkan pada waktu panen.
2.4.6        Pengendalian Hama dan penyakit
Penyemprotan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit sangat tidak dianjurkan. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan logam berat seperti tembaga (Cu), air raksa (Hg), dan Timah (Pb) (Pahan, 2012).
2.5  Panen
Pekerjaan panen adalah pekerjaan eksploitasi potensi produksi. Meningkatkan eksploitasi produksi adalah dengan memperkecil kerugian produksi. Produksi yang maksimal hanya dapat tercapai apabila kerugian produksi minimal. Sumber kerugian produksi meliputi buah mentah, buah tinggal di pokok, buah tinggal di blok, brondolan tinggal, serta buah di TPH yang tidak terangkut atau terlambat dikirim (Herdiyanti, 2010).

Salah satu kunci sukses panen adalah sarana panen yang baik, termasuk diantaranya adalah pasar pikul. Pasar pikul adalah jalan diantara dua jalur tanaman dalam blok yang digunakan untuk mempermudah aktifitas pekerjaan. Lebar pasar pikul timbun yaitu ± 1,2 meter , tinggi ± 45 centimeter, serta lebar parit ± 50 centimeter. Pembuatan pasar pikul timbun ini akan memudahkan pengangkutan buah dari dalam blok ke TPH terutama pada saat hujan karena areal rendahan khususnya rawan tergenang atau banjir saat hujan (Hartono, 2008).