Selasa, 20 Februari 2018


Resume Journal

TANGGAPAN HASIL PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG AKIBAT PEMBERIAN PUPUK UREA, SP-36 DAN KCL

Jagung dinilai memiliki responsifitas yang tinggi terhadap beberapa jenis unsur hara karena aktivitas fotosintesisnya yang melalui jalur C4, jalur C4 memerlukan unsur hara yang lebih tinggi untuk mengimbangi aktivitas fisiologis dan metabolismenya yang tinggi. Jagung membutuhkan unsur hara nitrogen, posfor dan kalium dalam jumlah yang lebih tinggi dibanding tanaman C3. Kekhasan jalur C4 dalam menggunakan nutrisi menjadikan jagung sangat direkomendasikan dalam pendugaan kesuburan tanah secara biologis.
Fotosintesis merupakan satu proses fisiologi penting yang terjadi di dalam tubuhyang dapat menangkap energi cahaya kemudian energi tersebut dirubah menjadi energi kimia selanjutnya energi disimpan dalam bentuk karbohidrat (Mirzoyev dan Aliyev, 2010).
Panjang akar merupakan variabel yang mempengaruhi serapan nutrisi oleh akar, semakin panjang ukuran akar maka semakin besar kemungkinan hara diserap
Berat kering total adalah hasil dari penyerapan unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium. Unsur-unsur tersebut diserap tanaman sebagai nutrisi dan digunakan untuk menyusun jaringan tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002)

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
1. Pertumbuhan tanaman dapat meningkat setelah diberi pupuk Urea dan pupuk KCl
2. Tanpa pemberian pupuk SP-36 (P2O5), dapat meningkatkan panjang akar dan luas akar jagung pada umur 8 mst
3. Penanaman jagung ditanah tegalan disarankan hanya memberikan pupuk Urea dan KCl

Potensi Jamur Mikoriza Arbuskular Unggul Dalam Peningkatan Pertumbuhan Dan Kesehatan Bibit Tebu (Saccharum officinarum L.)


Tebu merupakan salah satu bahan pokok industri gula. Permasalahan industri gula berpangkal pada empat hal utama yaitu: (1) inefisiensi di tingkat usaha tani; (2) inefisiensi di tingkat pabrik gula; (3) belum efektifnya kebijakan pemerintah guna mendorong perkembangan industri gula Indonesia; dan (4) industri dan perdagangan gula di pasar internasional yang sangat distortif.
Tanaman yang bermikoriza cenderung lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengan tanaman yang tidak bermikoriza. Setelah periode kekurangan air, akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa jamur mampu menyerap air yang ada pada pori – pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyerapan hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil akan meningkat
Meningkatnya tinggi tanaman akibat pemberian mikoriza diduga karena bertambah baiknya kondisi perakaran tanaman. Kondisi perakaran yang lebih baik tentunya menyebabkan unsur hara yang tersedia dalam tanah mudah diserap oleh tanaman dengan bantuan JMA. Menurut Husin (1994; cit Maryeni & Hervani, 2008) hifa JMA merupakan bagian terpenting dari mikoriza, karena hifa ini akan membantu penyerapan unsur hara dari tanah. Dengan adanya hifa ini, penyerapan hara terutama fosfor menjadi lebih besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan JMA. Fungsi utama dari hifa adalah untuk menyerap fosfor dari dalam tanah.
Lozano & Azcon (2000) menyatakan bahwa JMA dapat meningkatkan ketahanan tanaman pada kondisi kekurangan air melalui peningkatan penyerapan hara, transpirasi daun, dan efisiensi penguunaan air sehingaa terjadi penurunan nisbah akar terhadap tajuk tanaman. Keadaan itu menunjukkan bahwa fotosintesis tanaman meningkat dan fotosintat lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan tajuk.
Menurut Taufiq (2000) bobot kering tanaman (akar dan tajuk) menunjukkan tingkat efesiensi metabolisme dari tanaman tersebut. Berat kering total hasil panen tanaman merupakan penimbunan hasil bersih asimilasi CO2 selama pertumbuhan (Gardner et al., 1991). Semakin tinggi bobot kering maka reaksi metabolisme semakin baik karena tanaman memiliki daun yang kokoh sehingga proses fotosintesis berjalan lancar.  Berat kering tanaman memperlihatkan pola tanaman mengakumulasikan produk dari fotosintesis.
Adanya JMA pada bibit tebu dapat menekan atau meminimalkan terjadinya penyakit, karena bibit bermikoriza menjadi lebih sehat, nutrisi, dan hara tercukupi. Intensitas penyakit karat jingga dapat ditekan karena tebu memiliki pertumbuhan yang baik. JMA mampu menyerap unsur hara lebih baik dibandingkan dengan tebu yang tanpa diberi JMA. Terpenuhinya unsur hara dan pertumbuhan yang baik diduga dapat meningkatkan ketahanan tebu terhadap penyakit karat jingga.


KESIMPULAN
1. Hasil eksplorasi pertanaman tebu di berbagai lokasi, diperoleh jamur mikoriza Glomus sp., Gigaspora sp., Acaulospora sp., Entrophospora sp., Sclerocystis sp., dan Sculetolspora sp. Dari keenam genus tersebut, genus Glomus yang dominan.
2. Hasil uji infektivitas dengan menggunakan klon tebu PS 862 menunjukkan bahwa isolat MS, PKP, KLT, dan BTG menunjukkan infektivitas yang paling tinggi dan dapat dijadikan kandidat bahan dalam pupuk hayati.
3. Penambahan Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA) pada bibit tebu menyebabkan pertumbuhan bibit tebu menjadi lebih baik yang ditandai dengan nilai berat segar dan berat kering tebu yang lebih tinggi.
4. Penyakit tanaman yang diperoleh dari tebu yang diinokulasi JMA adalah penyakit karat jingga, virus garis, bercak daun, dan blendok palsu (bakteri).
5. Penyakit karat jingga merupakan penyakit yang paling dominan pada bibit tebu mempunyai intensitas yang lebih rendah pada bibit tebu yang diinokulasi dengan JMA dibandingkan kontrol.

Senin, 19 Februari 2018

One Week Academic Order
Tujuan
Mahasiswa sebagai insan cendikia sudah seharusnya memperlengkapi diri dengan bekal-bekal ilmu yang mereka peroleh baik selama proses belajar mengajar maupun diluar proses tersebut. Namun terkadang mahasiswa jarang melakukannya. Melalui kegiatan ini maka diharapkan mahasiswa memiliki kebiasaan “belajar” yang kelak nantinya saat hendak menghadapi UAS UTS maupun pengerjaan Tugas Akhir berupa Skripsi atau Laporan Akhir mereka tidak terkejut melainkan sudah menjadi hal yang biasa mengerjakan hal-hal berkaitan dengan akademik tersebut.
Produk
·   Teman-teman mahasiswa/I mampu menghabiskan bacaan berupa buku penunjang perkuliahan, jurnal, maupun catatan-catatan selama perkuliahan
·   Teman-teman mahasiswa mempunyai ringkasan menarik berupa mindmap, resume jurnal maupun bahan kuliah
Proses
One Week One Journal
a.   Mahasiswa membaca journal yang sudah disiapkan. Tema jurnal bebas / sesuai dengan kesepakatan / sesuai dengan matakuliah yang sedang diampu
b.   Dari pemahaman Anda atas bacaan yang sudah Anda baca sebelumnya, buat rangkumannya secara ringkas meliputi: apa argumen pokok dan temuan menarik dari bahan bacaan tersebut.
c.   Dalam membuat rangkuman, tulis ulang argumen pokok dari bahan bacaan tersebut dengan kalimat Anda sendiri, jangan hanya sekedar copy dan paste
d.  Diulik atau digali apabila menemukan hal-hal baru didalam jurnal tersebut yang belum anda pahami kemudian disertakan juga dalam resume tersebut

see example

Mindmapping Book[A1] 
e.   Mahasiswa membaca buku yang sudah disiapkan. Tema jurnal bebas / sesuai dengan kesepakatan / sesuai dengan matakuliah yang sedang diampu
f.    Dari pemahaman Anda atas bacaan yang sudah Anda baca sebelumnya, buat rangkumannya secara ringkas meliputi: apa argumen pokok dan temuan menarik dari bahan bacaan tersebut. Argumen dan temuan menarik tersebut ditulis dalam bentu pont kata-kata maupun kalimat
g.   Kemudian rangkuman dirangkai sedemikian sehingga mindmap.

Review Catatan Kuliah
h.   Mahasiswa membaca kembali catatan yang sudah ditulis selama seminggu. Boleh hanya sekendar membaca maupun dipahami/digali kembali makna catatan tersebut


Srategi
Program ini bisa jadi membosankan apabila dilakukan sendiri. Maka dari itu dilakukan berkelompok untuk mencegah monoton dan menambah wawasan. Bisa dilakukan dalam kelompok (5-10 orang). Kemudian diakhir yang sudah disepakati bersama (akhir bulan atau akhir minggu atau setiap tanggal tertentu dibahas bersama.






 [A1]

Mahkota Dewa



Tanaman Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia, habitat asalnya di tanah Papua dan kemudian masuk ke Keraton Mangkunegara Solo dan Keraton Yogyakarta yang digunakan untuk keperluan pengobatan. Bagian tanaman yang dapat  dimanfaatkan untuk pengobatan adalah daun, kulit, daging, cangkang dan biji (Harmanto, 2001). Teknologi budidaya mahkota dewa secara intensif hingga saat ini belum ada. Hal ini di sebabkan keberadaanya belum dikenal sacara luas oleh masyarakat. Secara umum mahkota dewa dapat dibudidayakan dengan mudah dan dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi. Perbanyakan mahkota dewa dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara generatif dan vegetatif. Secara generatif menggunakan biji sedangkan secara vegetatif contohnya dengan pencangkokan. Perbanyakan dengan biji merupakan cara yang paling banyak dilakukan karena memang paling mudah.  Agar tanaman mahkota dewa dapat tumbuh dengan baik maka harus diperhatikan  kelembapan medianya, penyiramannya, dan pemberian pupuk kandang atau kompos.
Mahkota dewa merupakan tanaman jenis pohon yang berkembang dan tumbuh sepanjang tahun, pohonnya mampu mencapai ketinggian 3-4m.Batang bergetah terdiri dari kulit yang berwarna coklat kehijauan dan batang kayu berwarna putih, dan berakar tunjang. Daun  mahkota dewa berbentuk lonjong , lansing, memanjang & hujungnya runcing, tepi daun rata, permukaan daun licin dan tidak berbulu. Bunga mahkota dewa berwarna putih dan berbau harum. Bunga tersebut berukuran kecil menyerupai bunga cengkih. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang & biji. Buah berbentuk bulat, diameter 3-5cm, permukaan licin, beralur, ketika muda warnanya hijau dan merah setelah masak. Daging buah berwarna putih, berserat dan berair. Cangkang buah merupakan kulit dari biji yang juga termasuk bahagian yang sering di manfaatkan sebagai obat. Biji merupakan bagian tanaman paling beracun. Bentuknya bulat lonjong berdiameter sekitar 1cm & berwarna coklat, bahagian dalam berwarna putih.
Cara Membudidayakan dan Syarat tumbuh Tanaman Mahkota Dewa
Pohon Mahkota Dewa dibudidayakan sebagai tanaman hias / tanaman peneduh. Pohonnya kecil dengan tinggi mencapai 1,5 - 3 meter, merupakan tanaman perdu, mempunyai buah yang menarik karena warnanya merah menyala, menempel dari batang utama hingga ke ranting-rantingnya.Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang memanfaatkan peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.
Masa produksi 10 - 20 tahun. Buah mahkota dewa berbentuk bulat, dengan ukuran bervariasi mulai sebesar bola pingpong sampai buah apel. Bagian tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan obat adalah daun dan buahnya. Tanaman mahkota dewa biasa tumbuh di ketinggian 10 - 1.200 m dpl (di atas permukaan laut) dengan lokasi optimal 10 - 1.000 m dpl.
Budidaya mahkota dewa dapat menggunakan bahan tanam generatif atau vegetatif. Cara generatif, artinya budidaya mahkota dewa memanfaatkan bibit berupa biji buah mahkota dewa itu sendiri. Sedangkan dengan cara vegetatif, artinya dengan cara mencangkok bagian pohon mahkota dewa. Secara umum, yang paling banyak digunakan adalah cara yang pertama yakni melalui bibit biji. Namun mengingat cangkokan lebih cepat berbuah, tak jarang juga yang memilih cara vegetatif. Medium tanam mahkota dewa bisa di pot maupun ditanam secara langsung di tanah. Namun, pilihan terbaik mungkin ditanam langsung mengingat akarnya yang tunggang.
Memilih Bibit
Jika memilih cara vegetatif, maka langkahnya cukup sederhana. Pilihlah pohon yang hendak dicangkok. Dalam memilih pohon, perhatikan tempilan pohon, intensitasnya dalam berbuah dan hal lainnya. Sama halnya jika Anda memilih cara generatif, bibit penting untuk diseleksi. Sebab bibit yang baik pasti akan memberikan hasil yang juga baik. Mengingat tamanan mahkota dewa tidak memiliki siklus musim dalam berbuah, maka bibit terbaik adalah tanaman yang berbuah lebih produktif dan memiliki kualitas buah yang lebih baik.
Pengolahan Tanah, Penanaman, Pemupukan
Setelah bibit tersedia, hal lain yang penting diperhatikan adalah pengolahan medium tanam. Sebelum menanam bibit, perhatikan kesuburan tanah. Ada baiknya digemburkan terlebih dahulu dengan cara diberi pupuk dasar. Takaran pupuk kandang yang diberikan adalah 20ton/ha. Selain tanah, lubang tanam juga penting untuk diperhatikan. Sebagai tanaman keras, mahkota dewa membutuhkan membutuhkan lubang tanam. Lubang tanam digali (30x 30x30 ) cm. Tanah galian ditumpuk terpisah antara tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah.  Penting untuk membiarkan lubang tanam terbuka selama seminggu agar terkena udara luar dan terpapar sinar matahari. Media penanaman bisa juga menggunakan pot berukuran diameter 30 cm dan tinggi 40 cm, bisa terbuat dari tanah, plastik, kayu atau kaleng. Media tanam dalam pot sebaiknya campuran tanah, kompos, pasir/sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
Setelah bibit dan medium tanam telah siap, selanjutnya adalah langkah penanaman. Sebenarnya, hal yang paling menguntungkan dari budidaya mahkota dewa adalah tidak adanya siklus musim baik itu tanam maupun berbuah. Jadi tidak ada waktu khusus jika ingin menanam mahkota dewa. Setelah proses penanaman, yang perlu Anda perhatikan selanjutnya adalah pemeliharaan berupa pemupukan, penyiraman, dan penyiangan dari gulma dan juga pembasmian hama.
Penyiraman,Pemupukan, Penyiangan
Dalam budidaya mahkota dewa, penting untuk memperhatikan perawatan seperti pemupukan. Pada dasarnya, pupuk yang dianjurkan adalah pupuk organik berbahan alami. Anorganik tidak dianjurkan sebab residu kimianya akan mempengaruhi buah padahal buah mahkota dewa merupakan bahan obat herbal. Tentu kandungan kimia akan mempengaruhi kualitas pengobatan. Hal lain yang penting adalah proses penyiraman. Selama hidupnya, tanaman mahkota dewa digolongkan sebagai tanaman yang konsumsi airnya cukup tinggi. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan masalah hama juga gulma. Lakukan proses penyiangan secara frekuentif untuk melawan gulma sepanjang tahun. Sedangkan untuk hama, umumnya yang sering menyerang mahkota dewa adalah belalang, ulat buah, dan juga kutu putih. Pakailah pestisida organik untuk mengusir hama tersebut.
Tanaman ini membutuhkan banyak air selama hidupnya. Oleh karena itu perlu adanya aliran irigasi yang baik pada lahan pertanaman. Tanaman berbunga pertama kali yang menjadi buah pada umur 10-12 bulan.
Panen
Langkah terakhir dalam proses budidaya mahkota dewa adalah masa panen. Buah akan matang dan siap dipanen dalam waktu 2 bulan. Buah mahkota dewa yang siap panen berwarna merah terang dan memiliki bau manis layaknya gula pasir. Setelah dipetik, untuk meningkatkan nilai jual, Anda bisa melakukan beberapa proses seperti penyortiran, pencucian, pemotongan daging buah, pengeringan dan lain-lain. Namun, dalam kondisi tertentu, Anda juga bisa menjual buah mahkota dewa dalam keadaan segar.
Tempat tumbuh
Mahkota dewa dijumpai tumbuh liar di daerah hutan dengan ketinggian 10 - 1200 mdpl dengan curah hujan 100 - 2500 mm/tahun. Tanaman yang berasal dari Papua ini akan tumbuh optimal jika ditanaman pada ketinggian 10 - 1000 mdpl.
   


MAKALAH MANAJEMEN USAHA PERTANIAN KOMODITAS CABAI MERAH


MAKALAH MANAJEMEN USAHA PERTANIAN
KOMODITAS CABAI MERAH
http://zeagallery.com/wp-content/uploads/2013/07/Logo+UGM++.jpg


Oleh    :
                                   
           



FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

BAB I
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan potensi pertanian yang cukup menjanjikan. Berbagai komoditas tanaman diusahakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Cabai keriting merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Masyarakat Indonesia yang cenderung menyukai rasa pedas dalam masakannya. Hal ini membuat cabai menjadi kebutuhan bumbu dapur yang sering dicari dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Harga cabai keriting di pasaran yang cukup menjanjikan membuat banyak petani memilih membudidayakan komoditas ini. Namun, seringkali harga tersebut mengalami fluktuasi tergantung dari cuaca dan iklim serta berbagai faktor produksi lain yang membuat harga cabai keriting dapat melonjak turun atau naik.
Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Saat ini cabai menjadi salah satu komoditas sayuran yang banyak di butuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun internasional. Permintaan cabai semakin meningkat sebanding pertambahan jumlah penduduk. Budidaya cabai menjadi peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor (Santika, 2008).
Cabai termasuk komoditas hortikultura yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Permintaan cabai di Indonesia cukup tinggi dan relatif kontinyu, yakni rata-rata sebesar 4,6 kg per kapita per tahun( Istiyanti, 2010 cit Setiadi, 2010). Permintaan yang terus menerus dari masyarakat membuat petani juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Selain itu masa tanam cabai merah keriting yang relatif cepat membuat masyarakat memilih membudidayakan tanaman ini. Dalam satu kali tanam, tanaman cabai merah keriting ini dapat dipanen 4-5 kali panen.
Tanaman cabai merupakan salah satu pilihan bagi petani di banyak wilayah termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Yogyakarta terdapat empat kabupaten penghasil cabai yakni Sleman, Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo ( Isyanti, 2010 cit BPS Sleman, 2007). Keberadaan cabai secara umum di Indonesia belum bisa digantikan oleh komoditas lain. Selera masyarakat Indonesia yang menyukai cita rasa pedas semakin meningkat. Peningkatan tersebut dapat terlihat dengan semakin banyaknya kedai, restoran atau warung makanan yang menggunakan cabai sebagai bahan bakunya. Permintaan akan cabai akan terus meningkat sebanding dengan meningkatnya produsen makanan yang menggunakan cabai merah keriting sebagai bahan bakunya. Cabai sendiri dapat di konsumsi dalam keadaan segar, kering, serbuk dan produk olahan lain. Usaha budidaya cabai keriting perlu ditingkatkan agar tetap layak menjadi salah satu usaha tani petani Indonesia.


B.     Rumusan masalah
Cabai keriting merupakan komoditas yang menjanjikan namun memiliki harga yang selalu fluktuatif. Harga yang seringkali fluktuatif ini membuat para petani cabai seringkali tidak mendapatkan harga yang layak bahkan merugi. Budidaya cabai keriting juga seringkali terkendala oleh adanya OPT. Teknis produksi atau budidaya meliputi agroklimat, budidaya dan produktivitas cabai keriting juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu makalah ini mengangkat masalah yang berkaitan dengan usaha tani cabai keriting meliputi teknis produksi, biaya produksi, hasil produksi, tenaga kerja yang digunakan, sifat usaha tani, sarana produksi serta faktor-faktor produksi lain.  
C.     Tujuan
1.      Mengetahui faktor-faktor produksi cabai keriting
2.      Mengetahui kendala-kendala dalam usaha tani cabai keriting
3.      Mengetahui dan menganalisis usaha tani komoditas cabai keriting






BAB II
USAHA TANI CABAI KERITING
A.    Faktor Produksi Alami
Tanaman cabai keriting sangat cocok ditanam pada ketinggian 0 – 500 m dpl dengan suhu antara 19– 30C dan curah hujan 1.000 – 3.000 m m/tahun.Tanaman cabai membutuhkan tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara serta dapat tumbuh optimal pada tanah regosol dan andosol dengan pH tanah antara 6 - 7. Untuk menghindari genangan air pada lahan. Untuk penanaman cabai keriting lebih baik pada lahan yang agak miring dengan tingkat kemiringan tidak lebih dari 250. Lahan yang terlalu miring dapat menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan (Rahman, 2010).
            Kebutuhan air untuk cabai keriting juga tidak terlalu berlebihan, tanah cukup sebatas pada kapasitas lapang, tidak menggenang, apabila menggenang tanaman akan membusuk. Tanaman cabai juga tidak harus ditanam di atas lahan yang luas, cabai juga dapat ditanam di atas polybag atau pot.
Hal- hal yang perlu dilakukan untuk budidaya tanaman cabai keriting berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani cabai keriting di Sleman yang bernama ibu Sumin, 52 tahun yakni:
a.       Persiapan lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan cara mencangkul tanah yang akan ditanami agar menjadi gembur. Kemudian lahan dibuat bedengan.. Lahan yang diiliki ibu Sumin untuk menanam cabai yakni 75 m2
b.      Pemupukan
Pemupukan dilakukan satu kali pada saat persiapan lahan saja. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang.
c.       Penanaman cabai
Bibit cabai yang ditanam kira-kira sudah siap untuk pindah tanam memiliki 5-6 helai daun. Bibit didapatkan dari hasil pembibitan dari benih yang beliau dapatkan dari took-toko pertanian.
d.      Pemberian mulsa
Pemberian mulsa untuk meminimalisir adanya gulma serta mengurangi evaporasi air dalam tanah.
e.       Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi pengendalian OPT, penyiraman, pemberian ajir, dan penyulaman. Pengendalian OPT oleh narasumber dilakukan tergantung pada kondisi tanaman. Apabila kondisi tanaman baik tidak perlu dilakukan pengendalian menggunakan pestisida. Namun, apabila tanaman terserang OPT, baru dilakukan penyemprotan. OPT yang sering kali menyerang adalah lalat buah, walang sangit, penyakit daun keriting serta adanya gulma. Gulma dapat dihilangkan dengan cara manual. Penyiraman dilakukan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman cabai yang di tanam pada musim kemarau. Penyiraman dilakukan satu hari sekali di pagi hari. Pemberian ajir dilakukan agar tanaman cabai tetap berdiri tegak dan batangnya kuat, tidak mudah roboh. Penyulaman dilakukan jika ada tanaman yang mati, diganti dengan tanaman yang baru.
f.       Panen
Tanaman cabai keriting dapat dipanen hingga lima kali dalam satu kali masa tanam. Pemetikan dilakukan dengna rentang 4-5 hari sekali. Dengan lahan 75m2, ibu Sumin dapat memanen 90kg setiap kali petik. Hasil panen tersebut di jual kepada tengkulak dengan harga Rp 8.500,-/kg
Teknis budidaya tanaman cabai keriting tersebut apabila dibandingkan dengan teori kurang lebih sama. Seringkali petani menggunakan ilmu titen dalam usaha budidayanya. Teori hanyalah sebatas pengetahuan untuk menambah wawasan, untuk di lapangannya seringkali berbeda dengan teori bahkan lebih kompleks.
B.     Lahan dan Kepemilikan Lahan
Lahan yang dimiliki ibu Sumin ada 150m2 dan merupakan lahan milik sendiri. Lahan tersebut dimanfaatkan setengahnya untuk menanam cabai dan setengahnya yang lain untuk menanam kacang tanah. Selain itu narasumber juga bekerja sebagai petani sakap di lahan sakap yang ditanami kacang tanah dan padi. Jika panen, hasilnya adakn dibagi dengan bagian 1/3 kacang tanah dan ½ padi. Namun, dalam makalah ini hanya akan dibahas tentang komoditas utamanya saja yakni cabai keriting.
C.     Sarana produksi
Dalam budidaya tanaman cabai keriting, ibu Sumin menggunakan sarana-sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida, ajir dan mulsa. Dalam satu kali musim tanam ibu Sumin menggunakan 6kotak benih cabai yangg dibeli di toko pertanian, pupuk kandang yang digunakan saat mengolah tanah sebanyak 6karung/produksi, pestisida sebanyak 4 botol.
Tabel 1.  biaya sarana produksi
satuan
harga/satuan(Rp)
harga total(Rp)
Produksi:
benih
6 kotak
60,000
360,000
pupuk
6 karung/produksi
30,000
180,000
pestisida
4 botol/ produksi
40,000
160,000
ajir
80,000
mulsa
80,000
D.    Tenaga Kerja
Usaha tani cabai keriting yang dijalani narasumber menggunakan tenaga kerja dalam sebanyak 2orang untuk perawatan dan panen. Sedangkan tenaga kerja luar 2 orang dengan HOK 1 minggu setiap orang. Tenaga kerja luar tersebut digaji Rp 50.000,- per orang . Tenaga Kerja luar ini hanya digunakan saat pengolahan lahan saja.
E.     Panen dan Pasca Panen
Cabai keriting yang ditanam oleh narasumber dipanen setelah 80-90hari setelah tanam. Dalam satu kali musim panen dapat dipanen sebanyak lima kali panen dengan bobot setiap panen sebesar 90kg. Sehingga produksinya sebesar 450kg setiap satu kali musim dan produktivitasnya untuk lahan 75m2 sebesar 6kg/m2 . Hasil panen ini akan dijual ke pasar atau tengkulak dengan harga Rp8.500,-/kg.
F.      Analisis Usaha Tani
Tabel 2. Biaya produksi, pendapatan petani
satuan
harga/satuan
harga total
Produksi:
benih
6 kotak
60,000
360,000
pupuk
6 karung/produksi
30,000
180,000
pestisida
4 botol/ produksi
40,000
160,000
ajir
80,000
mulsa
80,000
tenaga kerja dalam
14 hok
tenaga kerja luar
14 hok
50,000/ hok
700,000
total biaya produksi
1,560,000
hasil produksi
5 kali petik x 90kg
8,500/kg
3,825,000
pendapatan petani
2,265,000
Dari hasil analisis tersebut didapatkan bahwa untuk lahan 75m2 dalam satu kali musim tanam cabai keriting pendapatan yang didapat sebesar Rp2.265.000,- . Dengan demikian, untuk setiap bulannya maka pendapatan dari hasil usaha cabai sebesar Rp775.000,-.
Jika dianalisis kelayakan usaha taninya menggunakan B/C rasio dengan cara membandingkan antara penerimaan kotor (hasil penjualan) dan biaya total yang dikeluarkan maka , usaha tani tersebut layak untuk diusahakan sesuai dengan perhitungan di bawah ini
Kelayakan usaha tani=
R/C= 3,825,000/ 1,560,000
            = 2,45 à > 1 sehingga layak

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
1.      Faktor-faktor produksi usaha tani cabai keriting meliputi iklim, tanah, tenaga kerja, agroklimat dll
2.      Kendala dalam usaha tani ini adalah fluktuasi harga serta adanya OPT
3.      Dari hasil analisis usaha tani cabai tersebut layak untuk diusahakan
DAFTAR PUSTAKA

Rahman, S. 2010. Meraup Untung Bertanam Cabai Rawit dengan Polybag. Lily Publisher : Yogyakarta
Santika,A. 2008. Agribisnis Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.